Nama kesenian : Cepung
Daerah asal : Sasak, Lombok, Nusatenggara Barat
Masyarakat
etnis Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, sudah akrab dengan kesenian
Cepung. Apalagi kesenian Cepung lahir, tumbuh, dan berkembang di tanah
Lombok. Naskah Lontar Monyeh, sumber cerita seni teater tutur itu, ada
yang beraksara Sasak Jejawan (turunan Hanacaraka) berbahasa Sasak, Bali,
dan Jawa. Lontar gubahan Mamik Mihram itu kemudian dibawa dan
dipelajari seniman Bali, hingga melahirkan kesenian tersebut.
Popularitas
kesenian Cepung tidak bisa dilepaskan dari peran Lalu Ambare alias
Mamik Ambar yang sekarang berusia 90 tahun. Warga Jalan Jaya Sena,
Mayura, Cakranegara, Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu selama tujuh
dekade telah menekuni teater tutur ini.
Ambar, panggilannya,
ngamen di berbagai tempat, dari pentas resmi sampai ke berbagai pelosok
desa guna meramaikan acara pernikahan, khitanan, dan hajatan lainnya.
Ambar
seolah mewakili liku-liku kesahajaan hidup seniman tradisi. Demi
mempertahankan kesenian Cepung, dia rela berjalan kaki sampai separuh
hari, menuju tempatnya berpentas. ”Itu perkara biasa,” ujarnya.
Sering
kali pula Ambar menginap semalam di rumah kenalannya yang berdekatan
dengan tempat dia akan manggung. Ia kemudian baru melanjutkan perjalanan
esok harinya. Itu bukan soal bagi Ambar. Demi sampai ke tujuan,
ibaratnya berenang menyeberangi sungai yang airnya melimpah saat musim
hujan pun akan dia lakoni.
Penatnya dalam perjalanan itu terbayar
dengan kemeriahan sambutan khalayak penonton. Apalagi Ambar pun memiliki
kemampuan menghibur. Aksi panggung Ambar, antara lain, menirukan suara
gamelan dengan mulut disertai gerakan tubuh dan mimik yang bisa membuat
penontonnya terhibur.
Awak kesenian Cepung ini meliputi pemain
suling, redep (rebab dalam gambang kromong, Betawi), pemakhitanaos
(pembaca naskah lontar), penyokong (pendukung), dan punggawa
(penerjemah).
Dalam seni teater tutur ini, Ambar bertugas sebagai
pemakhitanaos. Selain membaca naskah cerita, dia juga sering kali ikut
menjadi penyokong.
Ambar menembang bersahut-sahutan dengan
personel lainnya. Mereka menirukan lirik lagu dengan bunyi instrumen
gamelan memakai mulutnya. Di sini ada fonem dang, ding, dung, diucapkan
pada akhir kata. Misalnya dalam kata doang (berarti hanya), fonemnya
menjadi dung.
Trio maestro
Kesenian
Cepung menjadi ”hidup” di tangan Ambar dan dua rekannya, almarhum Ketut
Bagiada (penerjemah) dan almarhum Ridin (pemain redep). Tak heran
kalangan seniman menyebut mereka sebagai Trio Maestro Cepung. Meskipun
terkadang ada pemain lain yang membantu mereka saat berpentas, trio ini
tetap tidak terpisahkan.
”Ya, kami sudah spel (kompak),” kata Ambar memberi alasan sambil meringis.
”Sudah
dua bulan saya cuma duduk dan tidur, dari sini ke sini saja. Saya
merasa lemas,” kata dia sambil menunjuk bagian paha dan kakinya yang
terserang stroke sejak akhir 2005. Sebelumnya Ambar menjalani operasi
hernia atas biaya pemerintah lewat fasilitas jaminan kesehatan
masyarakat (Jamkesmas).
Secara fisik, Ambar tampak lemah. Dia
berbaring dalam ruangan berdinding gedek seluas sekitar 2,5 meter x 4
meter. Dipannya berkasur lusuh. Untuk makan dan minum, harus ada orang yang menyuapi dia. Shalat dan berwudu pun dilakukan Ambar di kamarnya.
Rumah
di atas tanah 1 are (100 meter persegi) yang ditempati Ambar bersama
anak tertua, menantu, dan cucu-cucunya itu adalah pemberian warga.
Penerangan di rumahnya berasal dari listrik tetangganya. Seluruh biaya
hidup Ambar ditanggung dua anak dan cucu-cucunya. Adapun cicitnya
bertugas melayani keperluan makan-minumnya. Kedua istri Ambar sudah
meninggal.
Namun, energi Ambar muncul seketika saat berbicara
tentang Cepung. Suaranya yang semula lirih berubah lantang, posisi
duduknya menjadi tegak. Ia pun bisa bercanda, dan memelesetkan namanya
menjadi Ngambar (berkeliling), atau keluyuran menghibur masyarakat.
Sejurus
kemudian Ambar nembang, istilah dalam seni membaca naskah lontar. Ia
mengutip prolog naskah Lontar Monyeh dalam bahasa Sasak.
”Tabik
pade warga sanak, wayah, mamik, bini-laki, te coba ngarang, penyelemor
ngantih nasi…. porok sang ne inik isi ate jari oat bingung, sak ngadu
kesemelan, apek diri jeneng ririh, mule tetentu sa ngadu lelakon doang.”
Artinya, tabik saudaraku, bapak-ibu, saya belajar mengarang (lagu)
sambil menunggu nasi (matang), iseng-iseng sebagai pelipur hati yang
bingung, saya mungkin ceroboh tetapi sejatinya ini semua sekadar cerita.
Lontar
Monyeh mengisahkan seorang putri raja yang disisihkan delapan
saudaranya. Bahkan, ia diusir oleh sang ayah dari istana karena fitnah
saudara-saudaranya. Sang putri lalu melukis wajah dan sketsa nasib yang
menimpanya. Hasil gambarnya itu diterbangkan angin, dan jatuh di istana
kerajaan tetangga.
Putra kerajaan tetangga yang menemukan gambar
itu lalu menyamar menjadi monyet (monyeh). Sang pangeran kemudian
menemui dan menemani sang putri dalam pengembaraan. Sampai suatu saat
sang putra raja mengubah diri menjadi manusia. Keduanya pun menikah dan
hidup bahagia.
Sejak kecil
Perkenalan
Ambar dengan Cepung dimulai sejak masih duduk di sekolah rakyat (SR,
setingkat SD). Di lingkungan tempat tinggalnya nyaris setiap hari ada
pentas Cepung. Bahasa dan aksara dalam naskah lontar (bahasa Sasak dan Jawa, beraksara Jejawan) bukan halangan bagi Ambar.
”Semua
itu menjadi mata pelajaran di sekolah saya,” kata Ambar. Setiap siang
ada acara memaos, dan dia selalu menyimak teknik nembang berikut
cengkoknya. Lambat laun ia menjadi fasih, dan sering kali diminta
menjadi pembaca naskah Lontar Monyeh.
Lalu, dia juga menjadi
tempat bertanya para seniman dan narasumber peneliti dari dalam dan luar
negeri. Ambar yang putus sekolah saat duduk di kelas 4 SR juga membagi
ilmunya kepada anak muda dan dewasa yang mau belajar kesenian Cepung.
”Saya
suka sedih kalau ada orang yang pengetahuannya tentang kesenian
(Cepung) masih terbatas, tetapi malah mengklaim diri sebagai pakar. Itu
namanya ’beloan kentok dait tanggek’ (merasa lebih panjang daun
telinganya dibandingkan tanduk hewan),” katanya.
Ambar memilih
bersikap seperti padi yang kian berisi kian merunduk. Dia suka
menertawakan diri sendiri karena ”kelemahannya” itu. Ketika dia
berpentas di Jakarta, misalnya, Ambar merasa seperti ”katak di bawah
tempurung” melihat hiruk-pikuk suasana Ibu Kota.
Editor :Jodhi Yudono/kompas
No comments:
Post a Comment