Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Saturday, 5 July 2014

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT TOKOH MUSLIM

PEMIKIRAN PARA TOKOH PENDIDIKAN ISLAM

I. KONSEP PENDIDIKAN IBN MISKAWAIH
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Ibn Miskawaih
Nama lengkap beliau adalah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’kub Ibn Miskawaih. Ia lahir pada tahun 320 H/932 M. di Rayy, dan meninggal di Isfahan pada tanggal 9 shoffar tahun 412 H/16 februari 1030 M. Ia hidup pada masa pemerintahan dinasti Buaihi (320-450 H/932-1062 M) yang sebagian besar pemukanya bermadzhab Syi’ah.

B. Konsep Pendidikan Ibn Miskawaih
Pada dasarnya untuk memahami pemikiran Ibn Miskawaih tentunya tidak bisa dilepaskan dari konsepnya tentang manusia dan akhlaq. Berikut uraianya :
1. Konsep Manusia
Ibnu Maskawaih memandang bahwa manusia sebagai makhluq yang memiliki macam-macam daya. Yaitu :
a. Daya nafsu (Sebagai daya terendah yang berasal dari unsur materi)
b. Daya berani (Sebagai daya tengah yang juga berasal dari unsur materi )
c. Daya berpikir (Sebagai daya tertinggi yang berasal dari ruh Tuhan)
Dari beberapa pembagian tentang manusia tersebut, ibn Miskawaih mempunyai pandangan bahwa daya nafsu dan daya berani akan hacur bersama badan, akan tetapi daya berpikir tidak akan pernah mengalami kehancuran.

2. Konsep Akhlaq
Konsep akhlaq yang di tawarakan oleh Ibn Miskawaih lebih di dasarkan pada doktrik jalan tengah. Dengan pengertian bahwa jalan tengah adalah dengan keseimbangan, moderat, harmoni, utama, atau posisi tengah diantara dua ekstrem. Akan tetapi Ibn Miskawaih lebih menitik beratkan pada posisi tengah antara ekstrem kelebihan dan ekstreem kekurangan masing-msing jiwa manusia. Dari keterangan diatas dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa ibn Miskawaih lebih memberi tekanan pada pribadi.
Menurut Ibn Miskawaih, jiwa manusia di bagi menjadi menjdi tiga, yakni :
a. al-bahimiyyah, yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat
b. al-ghadabiyah, yaitu kebernian yang diperhitungkan dengan masak untung ruginya.
c. an-nathiqah. Yaitu kebijaksanaan.
Ibn Miskawaih menegaskan bahwa setiap keutamaan memiliki dua sisi yang ekstreem. Yang tengah bersifat terpuji dan yang ekstrem bersifat tercela.



3. Konsep Pendidikan
3.1. Tujuan Pendidikan Akhlaq
Adapun tujuan pendidikan akhlaq adalah terwujudya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang baik. Sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati.
3.2. Materi Pendidikan Akhlaq
Untuk mencapai tujuan yang di rumuskan oleh ibn maskawaih tentunya ada beberapa hal yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Ibn maskawaih menyebutkan tiga pokok yang dapat dipahami sebagai meteri pendidikan akhlaqnya, yakni :
a. Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan manusia
b. Hal-hal yang wajib bagi jiwa
c. Hal-hal yang wajib bagi hubunganya dengan manusia.
3.3. Pendidik dan Anak Didik
Keberadaan pendidik (Guru) merupakan instrumen yang sangat penting, begitupun keberadaan anak didik. Keduanya dapat menciptakan sinergitas untuk membangun pendidikan. Akan tetapi, Ibn Maskawaih juga menerangkan bahwa keberadaan orang tua merupakan bagian dari instrumen pendidikan yang penting pula.
Terkait dengan pendidik, Ibn Maskawaih menempatkan posisi yang tinggi itu adalah guru yang berderjat mu’allim al-misal, al-hakim, atau al-mu’allim al-hikmat.
3.4. Lingkungan Pendidikan
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, Ibn Maskawaih Berpendapat bahwa usaha untuk mencapai kebahagiaan tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bersama atas dasar saling menolong dan saling melengkapi. Maka, sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan kondisi yang baik diuar dirinya, yakni lingkungan. Karena lingkungan yang baik akan turut serta dalam menentukan proses pendidikan.
3.5. Metodologi Pendidikan
Dalam hal ini Ibn Maskawaih lebih menitik beratkan pada metodologi perbaikan akhlaq. Seperti beberapa metode yang di ajukan oleh Ibn Maskawaih dalam mencpai akhlaq yang baik, yaitu :
a. Adanya kemauan yang bersungguh-sungguh untuk berlatih terus menerus dan menahan diri untuk memperoleh keutamaan dan kesopanan yang sebenarnya sesuai dengan keutamaan jiwa.
b. Dengan menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin bagi dirinya. Tentunya pengetahuan dan pengalaman yang baik.

II. KONSEP PENDIDIKAN AL-QABISI
A. Sekilas tentang riwayat Al-Qabisi
Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Muhammad Khalaf al-ma’rifi al-Qabisi. Ia lahir di Kairawan, Tunisia, pada bulan rojab, tahun 224 H. Bertepatan dengan 13 mei tahun 936M. Ia pernah merantau ke beberapa negara timur tengah pada tahun 553 H/963 M. Selama 5 tahun, kemudian kembali ke negeri asalya dan meninggal dunia pada tanggal 3 rabi’ul awal 403 H.




B. Konsep Pendidikan Al-Qabisi
Selain ahli dalam bidang hadits dan fiqh, Al-Qabisi juga di kenal ahli dalam pendidikan. Hal ini dapat diketahui mealui beberapa pemikiranya dibawah ini :
1. Pendidikan Anak-anak
Al-Qabisi memiiki perhatian yang besar terhdap pendidikan anak-anak yang berlangsung di kutab-kutab. Menurut beliau mendidik anak-anak merupakan upaya yang amat setrategis dalam rangka menjaga kelangsungan bangsa dan negara. Adapun instrumen penting dalam mendidik anak adalah guru yang tidak hanya menguasai berbagai materi pelajaran dan cara penyampaian, lebih dari itu juga di barengi dengan budi pekerti yang mulia dan mempunyai teladan baik
2. Tujuan Pendidikan
Adapun tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Al-Qabisi adalah pendidikan mampu untuk menumbuh kembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar serta mampu untuk membekali anak dengan kertampilan dan keahlian yang nantinya dapat mendukung kemampuan dalam mencari nafkah.
3. Kurikulum
Dilihat dari sisi pelaran (kurikulum) yang di ajarkan kepada anak didik, Al-Qabisi membagi kuurikulum kedalam dua bagian, dengan uraian sebagai berikut :
3.1. Kurikulum Ijbari
Kurikulum ijbari secara harfiah berarti kurikulum yang merupakan keharusan bagi setiap anak. Kurikulum ini terdiri dari kandungan ayat-ayat Al-Qur’an seperti sembahyang dan do’a - do’a, ditambah dengan penguasaan terhadap ilmu nahwu dan bahasa arab yang keduanya mrupakan persyaratan mutlak untuk memantabkan bacaan Al-Qur’an, tulisan dan hafalan Al-Qur’an.
3.2. Kurikulum Ihtiyari
Kurikulum ini berisi ilmu hitung dan seluruh ilmu nahwu, bahasa arab, syair, kisah-kisah masyarakat Arab, sejarah islam, ilmu nahwu dan bahasa arab lengkap.
Dalam kurikulum ini, Al-Qabisi lebih menekankan pada materi tentang ketrampilan yang dapat menghasilkan produksi kerja dan mampu membiayai hidupnya dimasa yang akan datang.

4. Metode dan Tehnik Belajar
Selain membicarakan tentang kurikulum, Al-Qabisi juga berbicara tentang metode dan tehnik mempelajari mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum tersebut. Misalnya tentang metode menghafal Al-Qur’an, menurut beliau menghfal dan menulis Al-Qur’an ditetapkan atas pemilihan waktu yang terbaik yaitu pada waktu pagi-pagi selama seminggu terus menerus dan bari istirahat sejak waktu setelah dhuhur hari kamis sampai hari jum’at. Kemudian belajar lagi pada hari sabtu pagi hingga minggu berikutnya. Dan Al-Qabisi juga sangat detail dalam memperhatikan waktu.
5. Percampuran Belajar Antara Murid Laki-laki dan Perempuan
Percampuran belajar antara laki-laki dan perempuan juga menjadi perhatian Al-Qabisi. Beliau tidak setuju jika ada percampuran karena tidak baik bagi anak-anak. Jika ditelisik secara seksama, anak remaja yang mengalami fase puberts masih belum memliki ketenangan jiwa dan dihawatirkan adanya kerusakan pada moral.

6. Demokrasi dalam pendidikan
Dalam hal ini Al-Qabisi mempunyai pandangan bahwa anak-anak yang masuk dalam kuttab tidak ada perbedaan derajat atau martabat. Baginya, pendidikan adalah hak setiap orang tanpa menutup pengecualian
Untuk mendukung terlaksananya demokrasi, Al-Qabisi menganjurkan agar orang-orang Islam yang berkemampuan material hendaknya mau membantu biaya pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu.

III. KONSEP PENDIDIKAN AL-MAWARDI
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Al-Mawardi
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali Ibn Muhammd Ibn Habib Al-Basyri. Ia dilahirkan di Basyrah pda tahun 364 H. Bertepatan dengan tahun 974 M. Beliau wafat di Baghdad pada tahun 450 H / 1058 M.

B. Pemikiran Al-Mawardi dalam Bidang Pendidikan
Pemikiran Al-Mawardi dalam bidang pendidikan sebagian besar terkonsentrasikan pada masalah etika hubungan antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Dalam pandangan Al-Mawardi, seorang guru yang memiliki sikap tawadlu (rendah hati) serta menjauhi sikap ujub (besar kepala).
Selanjutnya, selain sikap tawadlu juga harus bersikap ihlas serta mencintai tugas-tugasnya sebagai seoang guru. Al-Mawardi juga melarang seorang mengajar dan mendidik atas dasar motif ekonmi. Dalam pandanganya, menajar dan mendidik merupakan aktifitas keilmuan dan tidak dapat disejajarkan dengan materi.
Dalam hal ikhlas, sorang guru diharapkan untuk dapat melaksanakan tugsnya dengan profesional. Hal ini ditandai oleh beberapa sikap sebagai berikut :
1. Selalu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan gna mendukung pelaksanaan proses belajar mengjajar.
2. Disiplin terhadap peraturan waktu
3. Penggunaan waktu luang akan diarahkan untuk kepentingan profesionalnya.
4. Ketekunan dan keuletan dalam menjalankan tugasnya.
5. Memiliki daya kreasi dan inofsi yang tinggi.

IV. KONSEP PENDIDIKAN IBN SINA
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Ibn Sina
Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Al-Husayn Ibn Abdullah. Beliau lahir pada tahun 370 H / 980 M di Afshana, suatu daerah yang terletak di dekat Bukhara, dikawasan asia tengah. Ayahnya bernama Abdullah dari Balkh, Suatu kota termasyhur dikalangan orang-orang Yunani.

B. Konsep Pendidikan Ibn Sina
Pemikiran Ibn Sina dalam hal pendidikan antara lain berkenan dengan tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, guru dan pelaksanaan hukuman dalam pendidikan.
1. Tujuan Pendidikan
Menurut ibn Sina, tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kearah perkembanganya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu, pendidikan harus mampu untuk mempersiapkan seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang dimilikinya.
Khusus mengenahi pendidikan yang bersifat jasmani, hendaknya pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti olahraga, makan, minum, tidur dan menjaga kebersihan.
Tampaknya, sekilas tentang tujuan pendidikan yang dikemukkan oleh ibn Sina didasarkan pada pandangan tentang insan kamil (manusia sempurna). Yaitu manusia yang terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh.

2. Kurikulum
Konsep Kurikulum yang dibangun oleh Ibn Sina didasarkan pada perkembangan usia anak didik. Misalnya untuk usia 3 sampai 5 tahun diberikan mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara dan kesenian.
Selanjutnya, kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun mencakup pelajaran membaca dan menghafalkan Al-Qur’an, pelajaran agama, syair dan pelajaran olahraga. Sedangkan kurikulum untuk anak 14 tahun ke atas di bagi menjadi dua, yaitu : pelajaran yang bersifat teoritis dan praktis. Materi yang bersifat teoritis meliputi : ilmu tentang materi dan bentuk, gerak dan perubahan, wujud dan kehancuran, tumbuh-tumbuhan, hewan, kedokteran, astrologi, kimia, yang secara keseluruhan tergolong ilmu-ilmu fisika. Selain itu, juga terdapat ilmu matematika, dan ketuhanan. Selanjutnya, untuk materi yang bersifat praktis adalah ilmu akhlaq, pengurusan rumah tangga, politik.
Dari uraian tersebut, tampak bahwa konsep kurikulum yang ditawarkan ibn Sina memiliki tiga ciri, yaitu :
a. Konsep kurikulum ibn Sina tidak hanya terbatas pada pada sekedar penyusunan sejumlah mata pelajaran, melainkan juga disertai dengan penjelasan tentang tujuan dan kapan mata pelajaran itu harus diajarkan.
b. Strategi penyusunan kurikulum juga didasarkan pada peikiran yang bersifat pragmatis fungsional.
c. Strategi pembentukan kurikulum Ibn Sina tampak dipengaruhi oleh pengalaman dalam dirinya.

3. Metode Pengajaran
Metode pengajaran yang ditawarkan ibn Sina antar lain metode talqin (mengjarkan Al-Qur’an dengan cara memperdengarkan), demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, dan penugasan.

4. Konsep Guru
Konsep yang ditawarkan oleh Ibn Sina berkisar tentang guru yang baik. Guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara pendidik akhlaq, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main dihadapan muridnya.

5. Konsep Hukuman dan Pengajaran
Ibnu sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Ibn Sina menyadari bahwa manusia memiliki naluri yang selalu ingin disayang, tidak suka diperlakukan kasar.
V. KONSEP PENDIDIKAN AL-GHAZALI
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Al-Ghozali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghozali. Ia dilahirkan di Thus, sebuah kota di Khurasan, Persia, pada tahun 450 H / 1058 M.

B. KONSEP PENDIDIKAN AL-GHOZALI
Konsep pendidikan yang di tawarkan oleh Al-Ghozali meliputi tujuan penidikan, kurikulum, metode, etika guru dan murid. Berikut uraianya :
1. Tujuan Pendidikan
a. Tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah.
b. Tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia akhirat.
2. Kurikulum
Menurut Al-Ghozali, konsep mata pelajaran yang seharusnya diajarkan dan masuk kedalam kurikulum didasarkan pada dua kecenderungan sebagai berikut :
a. Kecenderungan agama dan tasawuf.
b. Kecenderungan pragmatis

3. Metode Pengajaran.
Perhatian Al-Ghozali dalam bidang metode ini lebih ditujukan pada metode khusus bagi pengajaran agama anak-anak. Untuk itu ia mencotohkan sebuah metode keteladanan bagi mental anak-anak, pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan diri mereka. Pada metode pengajaran Al-Ghozali lebih di tekankan pada pembentukan moral yang baik dan sesuai dengan aturan-aturan agama.

4. Kriteria guru yang baik.
Menurut Al-Ghozali, guru yang dapat diserahi tugas mengajar adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akalnya dan fisiknya..
Selain sifat-sifat umum yang harus dimiliki guru, seorang guru pun harus memiliki sifat-sifat khusus atau tugas-tugas tertentu sebagai berikut :
a. Kalau praktek mengajar dan peyuluhan maka sifat yang harus dimilikinya adalah rasa kasih sayang
b. Seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya.
c. Seorang guru hendaknya berfungsi sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur.
d. Seorang guru hendaknya menggunakan cara yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekersan, cacian, makian dan sebagainya.
e. Sorang guru harus tampil sebagai teladan atau panutan di hadapan muridnya.
f. Seorang guru harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual, dan memperlakukan sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu.

5. Sifat Murid Yang Baik
Sejalan dengan tujuan pendidikan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Dengan dasar pemikiran ini maka seorang murid yang baik dalah murid yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Seorang murid harus berjiwa bersih.
b. Seorang murid yang baik juga harus menjauhkan diri dari persoalan duniawi, mengurangi keterikatan dengan dunia agar tidak mengganggu lancarnya penguasaan ilmu.
c. Seorang murid hendaknya bersikap rendah hati.

VI. KONSEP PENDIDIKAN BURHANUDDIN AZ-ZARNUJI
A. Sekilas Tentang Riwayat Burhanuddin Az-Zarnuji
Nama lengkapnya adalah Burhanuddin Al-Islam Azzarnuji. Dikalangan ulama’ belum ada kepastian mengenai tanggal kelahirannya. Adapun mengenai wafatnya ada dua pendapat yang dapat dikemukakan. Pertama, Burhanuddin Azzarnuji wafat pada tahun 591H / 1195 M. Kedua, ia wafat pada tahun 840 H / 1243 M.

B. Konsep Pendidikan Azzarnuji.
Konsep yang dikemukakan Azzarnuji secara monumental dituangkan dalam karyanya Ta’lil Al-Muta’allim Thuruq Al-Ta’allum. Dari kitab tersebut dapat diketahui tentang konsep pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Az-Zarnuji. Secara umum kitab ini mencakup tiga belas pasal yang singkat-singkat, yaitu :
1. Pengertian ilmu dan keutamaanya
2. Niat kala belajar
3. Memilih ilmu, guru dan teman serta ketabahan dalam belajar.
4. Menghormati ilmu dan ulama’
5. Ketekunan, kontinuitas dan cita-cita luhur.
6. Permulaan dan intensitas belajarserta tata tertibnya.
7. Tawakkal kepada Allah
8. Masa belajar
9. Kasih sayang dan memberi nasihat
10. Mengambil pelajaran
11. Wara (menjaga diri dari yang haram dan subhat)
12. Penyebab hafal dan lupa
13. Masalah rezeki dan umur.

VII. KONSEP PENDIDIKAN IBN JAMA’AH
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Ibn Miskawaih
Nama lengkapnya adalah Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Sa’ad Allah ibn Jama’ah ibn Hasyim ibn Sakhr ibn Abd Allah al-Kinany. Beliah lahir di Hamza, Mesir, pada malam sabtu, tanggal 4 Rabiul akhir, 639 H/1241 M. Beliau wafat pada pertengahan malam akhir senin, tanggal 21 Jumadil ula tahun 733 H/1333M., dimakamkan di Qirafah. Dengan demikian usia beliau adalah 64 tahun 1 bulan 1 hari.

B. KONSEP PENDIDIKAN IBN JAMA’AH
Konsep pendidikan yang di kemukakan oleh Ibn Jama’ah secara keseluruhan dituangkan dalam karyanya Tadzkirat as-Sami’ Wa Al-mutakallimin fi adab al-Alim wa al-Muta’allimin. Di dalam buku tersebut ibn Jama’ah mengemukakan tentang keutamaan ilmu pengetahuan dan orang-orang yang mencarinya serta etika orang yang berilmu termasuk para pendidik ; kewajiban guru terhadap peserta didik, mata pelajaran, etika peserta didik, etika dalam menggunakan literatur serta etika tempat tinggal bagi para guru dan murid. Berikut uraianya :
1. Konsep Guru / Ulama’
Menurut Ibn Jama’ah bahwa guru sebagai ulama’ mikrokosmos manusia dan secara umum dapat dijadikan sebagai tipologi makhluq terbaik.
Dalam hal ini Ibn jama’ah menawarkan sejumlah kriteria yang harus dipenuhi seseorang yang akan menjadi guru. Yakni :
1.1. Menjaga akhlaq selama melaksanakan tugas pendidikan
1.2. Tidak menjadikan profesi guru sebagai usaha untuk menutupi ekonominya.
1.3. mengetahui situasi sosial kemasyarakatan.
1.4. Kasih sayang dan sabar.

2. Peserta didik
Manurut ibn jama’ah, peserta didik yang baik adalah peserta yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan untuk memilih, memutuskan dan mengusahakan tindakan-tindakan belajar dengan mandiri, baik yang berkaitan dengan aspek fisik, pikiran, sikap maupun perbuatan.

3. Materi Pelajaran / Kurikulum
Materi pel;ajaran yang dikemukakan oleh ibn jama’ah terkait dengan tujuan belajar yaitu semata-mata untuk menyerahkan diri kepada Allah. Tujuan semacam inilah yang merupakan esensi dari tujuan pendidikan Islam yang sesunggunya.
Terkait dengan tujuan tersebut, maka materi pelajaran yang diajarkan harus berkaitan dengan etika dan nilai-nilai spiritualitas. Sedangkan urutan mata pelajaran yang dikemukakan oleh ibn Jama’ah adalah sebagai berikut : Pelajaran Al-Qur’an, tafsir, hadits, ulumul hadits, ushul fiqh nahwu dan shorof.
Apabila dibedakan berdasarkan muatan materi dan kurikulum yang dikembangkan ibn jama’ah kiranya ada dua hal yang dipertimbangkan. Pertama, Kurikulum dasar yang menjadi acuan dan paradigma pengembangan disiplin lainya. Kurikulum ini secara secara konkret dijelaskan dengan kurikulum agama dan bahasa. Kedua, kurikulum pengembangan yang berkenaan dengan dengan mata pelajran non agama, tetapi tinjauan yang dipakai adlah kurikulum yang pertama diatas.
4. Metode Pembelajaran
Pada tingkatan metode pembelajaran, Ibn Jama’ah lebih menekankan pada metode hafalan, karena metode hafalan sangat penting dalam proses pembelajaran. Sebab, ilmu diperoleh bukan dari tulisan di buku melainkan dengan pengulangan secara terus menerus.

5. Lingkungan Pendidikan
Menurutnya, lingkungan yang baik adalah lingkungan yang didalamnya mengandung pergaulan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etis.

VIII. KONSEP PENDIDIKAN IBN TAIMIYAH
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Ibn Taimiyah
Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abd al-Halim bin Taimiyyah. Beliau lahir di kota Harran, wilayah Syiria, pada hari senin 10 rabi’ul awal 661 H/22 Januari 1263. Dan wafat di Damaskus pada malam senin, 20 zulkaidah, 728 Hijriyah/26 september 1328M. Ayahnya bernama Syihab ad-Din ‘Abd al-Halim Ibn as-Salam (627-672H). adalah seorang ulama’ besar yang mempunyai kedudukan tinggi di Masjid Agung Damaskus.

B. Konsep Pendidikan Ibn Taimiyah
Pemikiran Ibn Taimiyah dalam bidang pendidikan dapat dibagi kedalam pemikiranya dalam bidang falsafah pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum dan hubungan pendidikan dengan kebudayaan. Tentunya, pemikiran tersebut di bangun berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Semuanya itu secara signkat dapat dikemukakan sebagai berikut:


1. Falsafah Pendidikan
Menurut ibn Taimiyah bahwa menuntut ilmu itu merupakan ibadah dan memahaminya secara mendalam merupakan sikap ketakwaan kepada Allahdan mengkajinya merupakan jihad, mengajarkan kepada orang yang belum tau dan mendiskusikanya merupakan tasbih.

1.1. At-Tauhid
Menurut Ibn Taimiyah bahwa hal yang terpenting yang harus mendasarkan falsafah pendidikan adalah at-tauhid, yaitu menyatakan dua kelimah syahadah sebagai pangkal utama ajaran Islam.
Tauhid yang menjadi asas pendidikan itu menurut ibn taimiyah dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Tauhid rububiyah
Meyakini bahwa Allah itu esa, yang menciptakan semua mahluq, mengatur dan membimbingnya.
b. Tauhid uluhiyyah
Meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya tuhan yang pantas disebut tuhan, di taati dan dipatuhi segala perintahnya serta menjauhi segala laranganya.
c. Asmma dan sifat
Meyakini bahwa segala yang berjalan dalam kenyataan di alam raya ini merupakan aturan Tuhan.

1.2. Tabi’at Insaniyah
Menurut ibn Taimiyah bahwa manusia dikaruniai tabi’at atau kecenderungan mengesakan tuhan sebagaimana terkandung dalam falsafah pendidikan.

2. Tujuan Pendidikan
Menurut Ibn Taimiyah Tujuan pendidikan di bagi menjadi tigal hal, yaitu :
2.1. Tujuan Individual
Pendidikan diarahkan pada pembentukan pribadi muslim yang baik, yaitu seorang yang berfkir, merasa dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu sejalan dengan apa yang diperintahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah

2.2. Tujuan Sosial
Pendidikan juga harus diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah
3. Kurikulum
Dalam hal ini kurikulum dalam arti mata pelajaran dapat dikemukakan melalui empat tahab, yaitu
3.1. Kurikulum yang berhubungan dengan mengesakan tuhan
3.2. Kurikulum yang berhubungan dengan mengetahui secaara mendalam terhadap ilmu-ilmu Allah.
3.3. Kurikulum yang berhubungan dengan upaya mendorong manusia mengetahui secara mendalam terhadap kekuasaan Allah
3.4. Kurikulum yang berhubungan dengan upaya yang mendorong untuk mengetahui perbiuatan Allah

4. Metode Pengajaran
Menurut ibn Taimiyah pada garis besarnya metode pengajaran dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu metode ilmiyah dan metode iradiyah. Berikut uraianya

4.1. At-Thoriqoh al-islamiyah (metode ilmiyah)
Ibn Taimiyah menamai metode imiyah karena dengan metode itulah akan dijumpai pemikiran yang lurus dalam memahami dalil, argumen dan sebab-sebab yang menyampaikan pada ilmu.

4.2. At-Thoriqoh al-Iradah
Ibn Taimiyah menamai metode At-Thoriqoh al-Iradah karena metode ini yang menghantarkan seseorang pada pengamalan ilmu yang diajarkanya.

IX. KONSEP PENDIDIKAN ABDULLAH AHMAD
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Abdullah Ahmad
Abdullah Ahmad dilahirkan di Padang Panjang pada tahun 1878. ia adalah putera H. Ahmad, seorang ulama’ minangkabau yang senantiasa mengajarkan agama di surau-surau, disamping sebagai saudagar kain bugis

B. Konsep Pendidikan Abdullah Ahmad
Konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Abdullah Ahmad meliputi tiga aspek yang fundamental, yaitu aspek kelembagaan, aspek metode dan aspek kurikulum. Berikut uraianya :
1. Aspek Kelembagaan
Dalam hal ini Abdullah Ahmad lebih menitik beratkan pada pola pengelolahan lembaga serta menempatkan guru sesuai dengan keahliaanya.

2. Aspek Metode pengajaran
Dalam hal ini, Abdullah Ahmad menfokuskan pada metode debatting club, Yakni metode diskusi. Dalam metode ini memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada murid untuk bertanya dan berdialog secara terbuka tentang berbagai hal yang menyangkut masalah agama yang pada saat itu masih dianggab tabu dan kurang dianggap beradab.

3. Aspek Kurikulum
Konsep kurikulum yang di bawa oleh Abdullah Ahmad adalah konsep kurikulum pendidikan integrated, yaitu terpadunya antara pengetahuan umumdengan pengetahuan agama serta bahasa dalam program pendidikan sebagaimana tercantum dalam setiap rencana pembelajaran.

X. KONSEP PENDIDIKAN K.H. AHMAD SANUSI
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup K.H. Ahmad Sanusi
Ahmad dilahirkan pada tanggal 3 muharrom 1306 H/18 september 1888M. di Desa Cantayan, kecamatan Cibadak, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ayahnya bernama K.H. Abdurrohim bin H. Yasin, seorang pengasuh pondok pesantren di Cantayan. Ahmad Sanusi merupakan anak ketiga dari istri pertama, ia wafar pada tanggal 15 syawal thun 1369H/1950.

B. Konsep Pendidikan K.H. Ahmad Sanusi
Pemikiran Ahmad Sanusi dalam bidang pendidikan dapat diketahui melalui upaya-upaya yang dilakukan sebagai berikut :
1. Upaya Memajukan Pendidikan
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Ahmad Sanusi adalah membentuk lembaga pendidikan ibtida’iyah dan Madrasah diniyah. Dilembaga ini diajarkan selain pengetahuan agama juga pengetahuan umum.

2. Sistem, Metode dan Kurikulum
Kurikulum yang yang disuguhkan oleh Ahmad Sanusi adalah kurikulum khusus dalam bidang pelajaran agama. Dalam hal ini pelajaran yang ditekankan adalah pelajaran ilmu tafsir dan ilmu alat (nahwu shorof) Sedangkan metode yang dipakai adalah metode sorogan yang dipadukan dengan metode diskusi.

XI. KONSEP PENDIDIKAN K.H. IMAM ZARKASYI
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup K.H. Imam Zarkasyi
Imam Zarkasyi lhir di Gontor, Jawa Timur pada tanggal 21 maret 1910M. dan meninggal dunia pada tanggal 30 maret 1985. Ia meninggalkan seorang istri dan 11 orang anak.

B. Konsep Pendidikan K.H. Imam Zarkasyi
Secara garis besarkonsep pembaharuan pemikiran Imam Zarkasyi dapat dibagi dalam empat bidang yaitu pembaharuan dalam bidang metode dan sistem pendidikan, kurikulum pesantren, struktur dan sistem manajemen pesantren serta pola fikir santri dan kebebasan pesantren. Berikut uraianya ;
1. Pembaharuan Metode dan Sistem Pendidikan
Diantara pembaharuan metode dan sistem pendidikan yang diterapkan di Gontor adalah menganut sistem pendidikan klasikal yang terpimpin secara terorganisir dalam bentuk penjejangan kelas dalam jangka waktu yang ditetapkan. Hal ini ditempuh oleh Imam Zarkasi dalam rangka meningkatkan efisiensi dalam pengajaran, dengan harapan bahwa dengan biaya dan waktu yang relatif sedikit dapat menghasilkan produk yang besar dan bermutu.
Selain itu, Imam Zarkasyi juga memperkenalkan kegiatan extra kurikuler. Dalam hal ini santri memiliki kegiatan di luar jam pelajaran.

2. Pembaharuan Kurikulum
Kurikulum yang diterapkan oleh Imam Zarkasyi adalah 100% umum dan 100 % agama.

3. Pembaharuan Struktur dan Manajemen Pesantren
Demi kepentingan pendidikan dan pengajaran Islam, Imam Zarkasyi mewakafkan ponpes Gontor kepada lembaga yang di sebut badan wakaf pondok modern gontor.
Selanjutnya, dalam hal ini lembaga badan wakaf menjadi badan tertinggi di pondok Gontor. Badan inilah yang bertanggungjawab untuk mengangkat kyai untuk masa jabatan lima tahun. Dengan demikian, kyai bertindak menjadi mandataris dan bertanggungjawab kepada badan wakaf.

4. Pembaharuan dalam Pola Fikir Santri dan Kebebasan Pesantren.
Dalam hal ini di tanamkan jiwa kepada santri agar berdikari dan bebas. Sikap ini tidak saja berarti bahwa santri belajar dan melatih mengurus kepentinganya sendiri serta bebas menentukan jalan hidupnya di masyarakat., tetapi juga bahwa pondok pesantren itu sebdiri sebagai lembaga pendidikan harus tetap independen dan tidak tergantung pada pihak lain.

Tuesday, 3 December 2013

‘Oh, itu berbeda agamanya dengan kita, berarti dia boleh dibunuh’.”

Pendidikan adalah salah satu sarana untuk membangun karakterbangsa. 
Sejumlah lembaga pendidikan ditengarai telah mengajarkan intoleransi dan mengarahkan siswa untuk memiliki fanatisme terhadap ajaran agama tertentu.
Hal ini terjadi dari level yang paling dini sampai level perguruan tinggi.
Di Depok, ada anak TK dengan
spontan mengatakan, "Oh, itu
berbeda agamanya dengan kita, berarti dia boleh dibunuh".

Hasil survei Lembaga Kajian Islam
dan Perdamaian selama Oktober 2010 hingga Januari 2011 menunjukkan bahwa 49 persen
siswa di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi) cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan
masalah agama dan moral.
Upaya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pemerintah untuk menindak tegas
sekolah yang mengajarkan fanatisme dan radikalisme agama, merupakan langkah tepat.

Tokoh agama Romo Franz Magnis Suseno mengatakan pendidikan ke arah toleransi harus dimulai.

“Di situ ada dua poin yang penting. Yang
pertama bahwa toleransi bukan berarti
mengatakan semua keyakinan sama dan
sebagainya. Dan yang kedua, belajar menerima
bahwa orang dengan keyakinan yang berbeda.
Nah yang dua hal itu yang harus diajarkan
pada anak [sejak] kecil,” ujarnya.

Sunday, 24 November 2013

Refleksi Hari Guru Nasional

YaspendisPost ~ Bertepatan dengan Hari Guru Nasional, dunia
pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menghadapi persaingan global. Salah satu tantangan tersebut adalah keterbatasan jumlah guru berkualitas yang dapat memenuhi kualifikasi tenaga pendidik
abad 21 untuk mampu mendidik generasi penerus bangsa yang sesuai kebutuhan global.

Kurikulum 2013 dirancang untuk menciptakan suasana belajar dan materi pembelajaran yang lebih komprehensif dan terintegrasi. Kurikulum 2013 memusatkan proses pembelajaran pada anak didik untuk mencetak lulusan yang
kreatif, inovatif, menerapkan nilai etika, moral, dan akhlak mulia. Proses pembelajaran dan materi pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 menuntut kesiapan guru dan tenaga pendidik untuk mampu mengintegrasikan berbagai model pembelajaran bersifat tematis
terpadu, mendayagunakan teknologi informasidan komunikasi, serta mendidik anak didik secara kognitif, afektif, maupun psikomotoris.

Peringatan hari guru yang jatuh pada tanggal 25 Nopember bisa dijadikan mementum untuk merefleksikan apa yang telah dilakukan para guru. Guru yang dalam bahasa jawa bisa difilosofiskan sebagai seorang yang bisa digugu dan ditiru yang maksudnya dipercaya, dianut dan ditauladani.

Maka timbul pertanyaan sudahkah sebagai seorang guru ataupun calon guru saat ini tutur kata atau sikap sudah bisa dipercaya, dianut dan ditauladani?
Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani  yang artinya di depan memberi contoh, di tengah memberi
semangat, di belakang memberi dorongan adalah sebuah kalimat yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan Indonesia. Kalimat tersebut? memang seharusnya menjiwai
semangat mengajar dan mendidik para guru pada era sekarang.

Menurut Prof. Dr. Sunardi, M.Pd, Dekan FKIP UN Jember, guru yang ideal bisa diimplementasikan dari kapanjangan kata GURU itu sendiri yaitu gagasan, usaha, rasa dan
utama. Sebagai sorang guru harus dipenuhi dengan gagasan atau ide kreatif untuk menjadikan peserta didiknya lebih berkembang.
Ide tersebut harus disertai dengan usaha yang maksimum untuk mewujudkannya. Ide dan
usaha tersebut harus dilandasi dengan rasa atau empati sehingga ilmu yang dimiliki akan mengarah ke jalan yang positif. Kalau ketiganya sudah berjalan dengan baik maka ke-utama-an
yang akan didapat.

Refleksi ini akan cukup berarti ketika guru harus berhadapan dengan Implementasi Kurikulum 2013 dinilai mewujudkan siswa menjadi pribadi yang produktif, efektif, serta kreatif.
Hal ini pun sejalan dengan Kurikulum 2013 yang mulai diterapkan tahun ini.

Sekretaris Unit Implementasi Kurikulum Pusat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) Efriyanto mengatakan, untuk mewujudkan itu, tema Hari Guru Nasional
sangat sejalan dalam kurikulum 2013. "Oleh karena itu, kreatifitas seorang guru dalam menerapkan kurikulum 2013 adalah guru-guru yang tidak hanya mengajar,
melainkan kurikulum 2013 adalah
menerapkan konsep saintifik yang sangat
signifikan, dan siswa pun menjadi kompeten dalam konsep kurikulum 2013, yaitu dengan
program project learning ,".

       "SELAMAT HARI GURU"

Sambutan MenDIKBUD Dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2013

YaspendisPost~ Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2013 dan Hari Ulang Tahun (HUT)
ke-68 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) akan dilaksanakan pada tanggal 25
November 2013.

Adapun tema yang diambil dalam peringatan Hari Guru Nasional 2013 dan HUT Ke-68 PGRI
adalah Mewujudkan Guru yang Kreatif dan Inspiratif dengan Menegakkan Kode Etik untuk
Penguatan Kurikulum 2013.

Berikut di bawah ini merupakan link untuk mengunduh lampiran Sambutan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2013 dan HUT
Ke-68 PGRI.

Lampiran : Sambutan Mendikbud dalam HGN 2013, pdf

Saturday, 23 November 2013

Pendis:Persyaratan Rekom Mutasi Siswa dan Pengganti Ijazah Hilang/Rusak

Peraturan Dirjen Pendis Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pengesahan Fotocopy Ijazah / STTB, Surat Keterangan Pengganti yang Berpenghargaan sama dengan Ijazah / STTB dan Penerbitan Surat
Keterangan Pengganti yang Berpenghargaan sama dengan Ijazah / STTB pada Satuan Pendidikan Dasar Islam, Satuan Pendidikan Menengah Islam dan
Pendidikan Keagamaan Islam di Lingkungan Kementerian Agama silahkan klik_disini . Untuk Persyaratan Rekomendasi Siswa Pindah Sekolah dan Pengganti Ijazah Hilang atau Rusak di bawah ini:

Persyaratan Permohonan Rekomendasi Siswa Pindah
Sekolah :

1. Surat Permohonan Rekomendasi dari Orang Tua/Wali Siswa klik_disini
2. Surat Permohonan Rekomendasi dari Kepala Madrasah klik_disini
3. Surat Keterangan Pindah / Mutasi dari Madrasah diketahui Pengawas dan ditempel Foto
Siswa Terbaru 4x6.
4. Fotocopy Legalisir Buku Induk Siswa (rangkap 2)
5. Fotocopy Legalisir Buku Rapor Terakhir (rangkap2)

Persyaratan Permohonan Pengganti Ijazah Hilang /
Rusak

1. Surat Permohonan Pengganti Ijazah dari Yang Bersangkutan bermaterai Rp.6.000,- klik_disini
2. Surat Permohonan Pengganti Ijazah dari Kepala Madrasah klik_disini
3. Surat Keterangan dari Madrasah dan ditempeli Foto Terbaru 4x6 klik_disini
4. Fotocopy Legalisir Ijazah (jikamasih ada) rangkap 2
5. Fotocopy Buku Induk rangkap 2

Tuesday, 19 November 2013

Proses Katarsis Dalam Pendidikan

Dalam KBBI, katarsis diartikan:
1. Kris penyucian diri yg membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan;
2. Psi-cara pengobatan orang yg berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan
segala isi hatinya dengan bebas;
3. Sas kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis.

Katarsis atau katharsis, berasal dari bahasa Yunani: κάθαρσις pertama kali diungkapkan oleh para filsuf Yunani, yang
merujuk pada upaya "pembersihan" atau
"penyucian" diri, pembaruan rohani dan pelepasan diri dari ketegangan. Istilah ini
digunakan antara lain oleh: "Penyucian" yang dihasilkan pada para pemirsa dalam sebuah pentasan sandiwara, menurut
Aristoteles, metode psikologi (psikoterapi) yang menghilangkan beban mental seseorang dengan menghilangkan ingatan traumatisnya dengan membiarkannya
menceritakan semuanya.

Katarsis dalam pendidikan

Setiap anak melalui tahapan perkembangan psikologis namun dalam kurun usia yang sama
belum tentu tahapan perkembangan psikologis semua anak juga sama. Masing-masing
mempunyai ritme sendiri karena banyak factor yang menyertainya. Namun demikian jika tugas
perkembangan pada level tertentu belum tuntas maka hal tersebut akan berpengaruh pada tahapan berikutnya.
Proses katarsis sangat dikenal dalam psikologi, terutama dalam aliran psikoanalisis. Maksudnya
adalah adanya pelepasan emosi-emosi yang terpendam. Proses katarsis sangat penting bagi
orang-orang yang sedang menghadapi masalah emosional.
Dan pada umumnya, mereka juga sedang menghadapi situasi yang
menyedihkan, mengecewakan, dan
menjengkelkan. Mereka tidak mau bercerita kepada orang lain. Mereka lebih suka memendamnya sendiri atau berusaha untuk
melupakan masalahnya meskipun dalam kenyataan, suatu masalah semakin dipendam dan diusahakan untuk dilupakan, maka akan muncul berbagai macam ganguan fisik dan psikologis seperti depresi, kecemasan dan berbagai bentuk penyakit psikologis.

Mengacu pada definisi di atas, dapat dipahami bahwa katarsis itu adalah proses bagaimana kita mengeluarkan emosi yang tertahan.
Adapun cara katarsis tiap orang berbeda, tergantung dari karakter orang itu sendiri. Ada berbagai jenis katarsis seperti curhat,
menangis, karaokean, bermain video games yang keras, bermain air, berteriak dan sebagainya. Adapun proses katarsis yang
mudah dilakukan secara klasikal (dalam proses pembelajaran) diantaranya dengan menulis,
bermain air, berteriak untuk mengeluarkan ekspresi (bermain peran), dan permainan yang
memicu adrenalin (out bond).

*dari berbagai sumber*

Saturday, 16 November 2013

Evaluasi vs Penilaian dalam Pendidikan

Secara umum orang hanya mengidentikkan
kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena
aktifitas mengukur sudah termasuk
didalamnya. Pengukuran, penilaian dan
evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat
hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam
kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak
dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam
pelaksanaannya harus dilaksanakan secara
berurutan.

Konsep Evaluasi

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi
berasal dari bahasa Inggris evaluation yang
berarti penilaian atau penaksiran. Artinya evaluasi
merupakan proses menggambarkan,
memperoleh, dan menyajikan informasi yang
berguna untuk merumuskan suatu alternatif
keputusan.
Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan
menilai. Mengukur lebih besifat kuantitatif,
sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif.
Evaluasi adalah proses
penentuan apakah materi dan metode
pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang
diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah
satunya dengan cara pemberian tes kepada
pembelajar. Terlihat disana bahwa acuan tes
adalah tujuan pembelajaran.

Konsep Penilaian

Penilaian (assessment) adalah penerapan
berbagai cara dan penggunaan beragam alat
penilaian untuk memperoleh informasi tentang
sejauh mana hasil belajar peserta didik atau
ketercapaian kompetensi (rangkaian
kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab
pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau
prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil
penilaian dapat berupa nilai kualitatif
(pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai
kuantitatif (berupa angka).

Agar lebih jelas perbedaannya maka perlu
dispesifikasi lagi untuk pengertian masing2:
Evaluasi pembelajaran adalah suatu
proses atau kegiatan untuk menentukan
nilai, kriteria-judgment atau tindakan
dalam pembelajaran.
Penilaian dalam pembelajaran adalah
suatu usaha untuk mendapatkan berbagai
informasi secara berkala,
berkesinambungan, dan menyeluruh
tentang proses dan hasil dari
pertumbuhan dan perkembangan yang
telah dicapai oleh anak didik melalui
program kegiatan belajar.

sumber : Santriw4n

Friday, 15 November 2013

Karakter Guru Masa Depan


Ketika karakter bangsa dipersoalkan maka sasaran utamanya adalah pendidikan. Bicara soal pendidikan tak terlepas dari sosok yang bernama guru . Guru merupakan ujung tombak dari sistem pendidikan, selain berhadapan langsung dengan peserta didik, guru juga akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Perilaku seorang guru tidak hanya di depan peserta didik juga akan tersorot di mata masyarakat. Karakter guru mutlak dibutuhkan untuk mewujudkan cita - cita sebagai bangsa yang berkarakter. Nah... untuk mewujudkan semua itu, selayaknya membekali diri agar tercipta pendidikan berkarakter, generasi berkarakter dan bangsa yang berkarakter. Buku kecil karya Drs. Nadjib Sulhan MA ini layak menjadi rujukan kita dalam membangun Karakter bangsa. Buku Pendidikan : Karakter Guru Masa DepanRp 44.000</ span>Beli di Lanjar.com</ span>

Thursday, 31 October 2013

Akun Operator PADAMU NEGERI Kemenag


kemenag Kabar gembira untuk madrasah-madrasah dan guru-guru yang berada dibawah naungan      kementerian agama (Kemenag), bahwa dalam rangka memudahkan pengurusan dan kelancaran proses penerbitan akun madrasah baru, VERVAL NUPTK maupun pengajuan NUPTK baru bagi PTK dibawah naungan Kemenag,  saat ini telah dilakukan pemisahan pengelolaan data sekolah dan madrasah maupun PTK yang berada dibawah Kemdikbud dan dibawah Kemenag pada sistem PADAMU NEGERI. Seperti halnya operator ditingkat Dinas Pendidikan, saat ini juga telah diterbitkan akun untuk operator yang akan mengelola data PTK maupun madrasah dibawah naungan Kemenag. Sehingga diharapkan kedepan, pengurusan VERVAL maupun pengajuan NUPTK baru bagi madrasah maupun PTK dibawah naungan kemenag tidak dilakukan di Dinas Pendidikan setempat, tetapi cukup datang kekantor departemen agama (Kandepag) setempat.baca selengkapnya....

Tuesday, 22 January 2013

Profesionalisme Perilaku Guru

Dalam suatu wawancara televisi nasional, Ketua Umum PB PGRI Sulistyo menyatakan bahwa mulai Januari 2013, organisasi profesi yang dipimpinnya akan menjalankan Kode Etik Guru Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan, sebaiknya organisasi profesi guru hanya satu. Ini agar para guru terikat dalam kode etik yang sama. Dengan demikian, kalau terjadi pelanggaran kode etik, guru yang terbukti melakukan pelanggaran akan mendapat sanksi dari organisasi profesi guru yang bersangkutan.
Argumentasinya, bila organisasi profesi guru jumlahnya banyak, kalau ada guru yang melanggar kode etik di salah satu organisasi profesi ia akan segera pindah ke organisasi profesi guru lainnya. Alhasil, yang bersangkutan tidak mendapatkan sanksi atas pelanggaran tersebut.
Profesionalisme perilaku
Informasi akan dijalankannya kode etik oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan berita gembira karena kode etik itu merupakan pedoman etis bagi seseorang dalam menjalankan profesi. Kode etik berisi apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan seseorang dalam konteks menjalankan profesi.
Dijalankannya kode etik organisasi profesi akan menjaga profesionalisme anggotanya. Kalau dalam Kode Etik Advokat Indonesia dinyatakan advokat dalam melakukan tugasnya tidak bertujuan semata-mata untuk memperoleh imbalan materi, tetapi lebih mengutamakan tegaknya hukum, kebenaran, dan keadilan. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga profesionalisme advokat anggotanya. Kalau dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia disebutkan, setiap dokter senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tetap setia pada cita-citanya yang luhur, itu pun dimaksudkan menjaga profesionalisme anggotanya.
Implikasinya, kalau PGRI akan menjalankan Kode Etik Guru Indonesia, hal itu juga dimaksudkan untuk menjaga profesionalisme anggotanya. Istilah profesionalisme di sini bukan profesionalisme administratif, melainkan lebih pada profesionalisme perilaku.
Secara administratif banyak guru Indonesia yang sudah profesional ditunjukkan dengan sertifikasi pendidik. Pada Pasal 2 UU Guru dan Dosen disebutkan, guru diakui sebagai tenaga profesional kalau memiliki sertifikat pendidik. Kalau sekarang lebih dari 1 juta guru kita memiliki sertifikat pendidik, secara administratif mereka diakui sebagai tenaga profesional.
Apakah mereka semuanya merupakan guru profesional dalam konteks perilaku sebagai pengajar dan pendidik? Tentu tidak karena banyak guru yang perilakunya tidak berubah sebelum dan setelah dimilikinya sertifikat pendidik.
Kode etik yang nantinya akan dijalankan oleh PGRI terhadap semua anggota diharapkan dapat menjaga profesionalisme perilaku guru sebagai anggotanya. Separuh dari problematika pendidikan di Indonesia niscaya akan dapat solusi apabila guru kita benar-benar terjaga profesionalisme perilakunya.
Kode etik bersama
Pendapat Marzuki Alie bahwa organisasi profesi guru cukup satu (PGRI) saja kiranya tepat dalam konteks kode etik. Realitasnya sekarang di Indonesia terdapat puluhan organisasi profesi guru. Di luar PGRI ada Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), dan sebagainya.
Idealnya organisasi profesi guru memang cukup satu. Hal ini untuk memudahkan sosialisasi, monitoring, dan evaluasi Kode Etik Guru Indonesia—yang notabene dirumuskan PGRI—dalam pelaksanaannya.
Secara empiris memang ada satu kode etik profesi yang dijalankan oleh banyak organisasi profesi sekaligus, misalnya Kode Etik Advokat Indonesia dijalankan oleh Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI), Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia (AKHI), serta Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM).
Apakah IGI, FGII, FSGI, dan organisasi profesi guru lainnya bersedia menjalankan Kode Etik Guru Indonesia yang notabene dibuat oleh PGRI? Di sinilah masalahnya! Sangat sulit meminta organisasi profesi untuk menjalankan kode etik profesi yang dirumuskan oleh organisasi profesi lain yang (kemungkinan) dianggap sebagai saingannya.
Menjaga profesionalisme guru merupakan komitmen kita untuk memajukan pendidikan nasional. Rencana PGRI menjalankan kode etik untuk menjaga profesionalisme perilaku guru sewajarnya diapresiasi.


Ki Supriyoko Wakil Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa

Tuesday, 15 January 2013

Pengertian Guru Menurut Para Ahli

 
Pengertian Guru Menurut Para Ahli, Peran Kelas Definisi Guru - Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh seseorang tanpa memiliki keahlian sebagai guru. Untuk menjadi seorang guru, diperlukan syarat-syarat khusus, apa lagi seorang guru yang profesional yang harus menguasai seluk beluk pendidikan dan mengajar dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu. (Peran Guru Kelas)
Definisi Guru merupakan unsur penting dalam keseluruhan sistem pendidikan. Oleh karena itu peranan dan kedudukan guru dalam meningkatkan mutu dan kualitas anak didik perlu diperhitungkan dengan sungguh-sungguh. Status guru bukan hanya sebatas pegawai yang hanya semata-mata melaksanakan tugas tanpa ada rasa tanggung jawab terhadap disiplin ilmu yang diembannya. 
Dalam pendidikan itu, guru mempunyai tiga tugas pokok yang dapat dilaksanakan sebagai berikut:
1) Tugas profesional
Tugas  profesional  ialah  tugas  yang  berhubungan dengan profesinya.
Tugas profesional ini meliputi tugas mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan.
2) Tugas manusiawi
Tugas manusiawi adalah tugas sebagai manusia. Dalam hal ini baik guru mata pelajaran IPA-Biologi maupun guru mata pelajaran lainnya bertugas mewujudkan dirinya untuk merealisasikan seluruh potensi yang dimilikinya. Guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpatik sehingga ia menjadi idola siswa. Di samping itu transformasi diri terhadap kenyataan di kelas atau di masyarakat perlu dibiasakan, sehingga setiap lapisan masyarakat dapat mengerti bila menghadapi guru.
3) Tugas kemasyarakatan  
Tugas kemasyarakatan ialah guru sebagai anggota masyarakat dan warga negara seharusnya berfungsi sebagai pencipta masa depan dan penggerak kemampuan. Bahkan keberadaan guru merupakan faktor penentu yang tidak mungkin dapat digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu terlebih-lebih pada masa kini.

Di samping ketiga tugas pokok Guru tersebut diatas, menurut Muhtar (1992), guru juga berperan sebagai :
a)    Fasilitator perkembangan siswa
Kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa tidak mungkin dapat berkembang dengan baik apabila tidak mendapat rangsangan dari lingkungannya. Dalam suasana sekolah, guru diharapkan dengan siswa secara individual telah mempunyai kemampuan dan potensi itu. Dengan kata lain mempunyai peranan sebagai fasilitator dalam mengantarkan siswa ke arah hasil pendidikan yang tinggi mutunya.
b)    Agen pembaharuan
Kehidupan manusia merupakan serangkaian perubahan-perubahan yang nyata. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi ini mengalami kepesatan yang melangit. Dalam hal ini, guru dituntut untuk tanggap terhadap perubahan dan dituntut untuk bertugas sebagai agen pembaharuan dan mampu menularkan kreatifitas dan kesiapan mental siswa.
c)    Pengelola kegiatan proses belajar mengajar
Guru dalam hal ini bertugas mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu dalam menyajikan materi pelajarannya. Guru berperan dan bertugas sebagai pengelola proses belajar mengajar.
d) Pengganti orang tua di sekolah
Guru dalam hal ini harus dapat menggantikan orang tua siswa apabila siswa sedang berada di sekolah. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengganti orang tua, guru-guru harus mampu menghayati hubungan kasih sayang seorang bapak atau seorang ibu terhadap anaknya. Oleh karena itu, guru mampu mengenal suasana siswa di rumah atau dalam keluarganya.
Daftar Pustaka -  Pengertian Guru Menurut Para Ahli, Peran Kelas Definisi Guru
Muhtar. Pedoman Bimbingan Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PGK & PTK Dep.Dikbud. 1992/www.sarjanaku.com

Wednesday, 9 January 2013

Pro - Kontra RSBI Bubar




Hari ini penuh warna Pro- kontra tentang  pembubaran RSBI oleh Mahkamah Konstitusi. Apa yang melatarbelakangi Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan Pasal 50 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
Pasal yang mengatur Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di bawah sekolah-sekolah pemerintah itu dinilai bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
"Mengadili, menyatakan, mengabulkan permohonan para pemohon untuk seluruhnya," kata Ketua MK, Mahfud MD saat membacakan putusan alam sidang di Gedung MK, Jakarta, Selasa (8/1/2012).
MK mempunyai sejumlah pertimbangan dalam pembatalan RSBI/SBI tersebut.
Dalam pertimbangannya, MK berpendapat sekolah bertaraf internasional di sekolah pemerintah itu bertentangan dengan UUD 1945, RSBI menimbulkan dualisme pendidikan, kemahalan biaya menimbulkan adanya diskriminasi pendidikan, pembedaan antara RSBI/SBI dengan non RSBI/SBI menimbulkan adanya kastanisasi pendidikan.
Pertimbangan selanjutnya, yakni penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam tiap mata pelajaran dalam sekolah RSBI/SBI dinilai dapat mengikis jati diri bangsa, melunturkan kebanggaan generasi muda terhadap penggunaan dan pelestarian bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa.
"Pendidikan nasoional tidak bisa lepas dari akar budaya dan jati diri bangsa. Penggunaan bahasa asing sebagai bahasa pengantar pada RSBI/SBI akan menjauhkan pendidikan nasional dari akar budaya dan jiwa bangsa Indonesia," ujar hakim anggota MK.

Pro-kontra pun terus berlanjut, Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) mendukung keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pembubaran RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Menurut Sekretaris Fraksi PAN, Teguh Juwarno mengatakan implementasi RSBI sangat buruk.
"Saya rasa dengan keputusan MK ini bisa menjadi tamparan yang keras bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," kata Teguh di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (8/1/2013).
Teguh mengatakan RSBI semula diharapkan mampu menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan pendidikan. Ia mencontohkan bila terdapat satu RSBI di sebuah kecamatan maka menjadi acuan sekolah lain.
"Sekolah-sekolah lain itu juga berkembang kemudian menjadi taraf internasional," imbuhnya.
Namun, kata Teguh, yang terjadi saat ini implementasi RSBI keluar dari konsep awal. Ia mengatakan hanya orang kalangan atas yang dapat masuk RSBI. Selain itu kualitas pengajar ternyata tidak bertaraf internasional.
"Jadi dengan kata lain konsep yang bagus ini implementasinya buruk. Kita mendukung keputusan MK tersebut, dengan melihat realitas itu," ujarnya.
Ia pun mengusulkan agar pemerintah meningkatkan standar kualitas pendidikan di seluruh Indonesia terutama daerah pelosok.
"Karena yang kita temukan hari ini anak-anak orang miskin yang pintar, mereka justru semakin terpuruk karena mereka tidak bisa mendapatkan pelayanan pendidikan yang terbaik," imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti menyatakan pihaknya sangat bersyukur atas putusan Mahkamah Konstitusi tentang penghapusan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI).
"Kami berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghormati hukum dan putusan MK itu," kata Retno saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
FSGI, ujarnya, juga memberikan apresiasi kepada MK yang telah membuat keputusan yang berpihak kepada rakyat dan keadilan.
Ia berharap, dengan adanya putusan MK, tidak ada kebijakan baru yang dikeluarkan untuk menciptakan RSBI dalam bentuk yang lain.
"Jangan membangkitkan kembali roh RSBI dengan nama lain," ujarnya.


Dalam prakteknya memang RSBI rawan penyimpangan, paling tidak, seperti diungkapka Kepala Sekolah SMA Bopkri 1, Kota Yogyakarta, Andar Rujito, mengungkapkan kekecewaannya pada praktek pengelolaan sekolah rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Akibat sistem itu, sekolah terjebak oleh persoalan finansial dan urusan perbaikan fisik sekolah.
Kecenderungan itu dinilai kian parah dalam beberapa tahun terakhir. Banyak sekolah RSBI gemar menarik pungutan serta tak transparan dalam pengelolaan anggaran. “Apalagi ada syarat sekolah harus memakai bahasa Inggris dan gurunya bergelar S2. Ini sudah keluar dari substansi awal RSBI,” kata dia.
Menurut Andar, gagasan awal RSBI adalah menciptakan sekolah unggulan yang bisa membantu siswa bersaing di dunia internasional. Gagasan ini kian melenceng setelah banyak RSBI memberlakukan standar kualitas pendidikan berbiaya tinggi. “Banyak RSBI malah jadi lahan bisnis, makin lama memang tambah tak beres,” kata dia.
Mahkamah Konstitusi kemarin membubarkan sekolah bertaraf internasional dan rintisan sekolah bertaraf internasional. Hal ini sebagai dampak dari dikabulkannya uji materi terhadap Pasal 50 Ayat 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur pembentukan sekolah bertaraf internasional.
Pelaksana Tugas Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan DIY dan Jawa Tengah, Budhi Masturi, mengakui banyaknya sekolah RSBI di DIY yang berlindung di balik label internasionalnya itu untuk menarik biaya dari wali murid.
 
Guru Akui RSBI Memang Tak Beres  
Sementara itu Walikota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan menolak putusan MK tentang pembubaran RSBI ini.Usai rapat paripurna di DPRD kota Surabaya, Wali kota Surabaya Tri Rismaharini mengungkapkan keheranannya terkait putusan MK yang mengharuskan RSBI dibubarkan. Ia pun bersikeras bahwa keputusan MK tersebut tidak akan berpengaruh dengan pelaksanaan RSBI yang telah berjalan di Surabaya.
"Di Surabaya RSBI tetap berjalan dan kita tidak terpengaruh keputusan MK," kata Risma kepada wartawan di gedung DPRD kota Surabaya, Rabu (9/1).
Risma menilai apa yang dicermati MK terkait kasus penyelewengan RSBI di beberapa wilayah di Indonesia tersebut, tidak bisa menjadi gambaran bagi buruknya sistem RSBI. Terlebih Risma meyakini bahwa pelaksanaan RSBI di Surabaya tidak terjadi penyimpangan dan tidak ada pemungutan biaya liar (Pungli).
Disamping Wali Kota Surabaya,  Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari menilai sistem pendidikan RSBI masih tetap diperlukan. Terlebih bagi sejumlah siswa yang cerdas. Karena itu, ia meminta, penghapusan yang merupakan dampak dari keputusan MK tersebut dilakukan hanya terkait aspek diskriminatif sistem RSBI.
"Sistem RSBI tetap diperlukan, hanya aspek diskriminatifnya saja yang dihapuskan misalnya soal bea studi yang dibebankan kepada siswa sehingga hanya siswa dari keluarga tertentu dengan kemampuan finansial tertentu saja yang bisa diterima," ujar Hajriyanto saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (9/1).

Sudah saatnya bangsa ini untuk bertindak dewasa, pro-kontra jangan dijadikan dalih demokrasi. Mari belajar dewasa dengan demikian kita bisa memberi contoh bagi generasi muda, yang bukan hanya sebagai insan cendikia namun bermartabat dan berkarakter.

Dari berbagai Sumber

Tuesday, 1 January 2013

Teori Pendidikan Mana Yang Terbaik





“Sebaiknya ibu mengatakan pada anak ibu bahwa sekolah dimana-mana sama saja. Ibu juga sebaiknya harus mendisiplinkan anak ibu bahwa biaya sekolah itu cukup mahal. Anak-anak diajarkan juga untuk mengerti kondisi bahwa orangtua telah menyekolahkan anak dengan susah payah, apalagi bila sekolahnya itu adalah sekolah favorit maka sebaiknya si anak harus beradaptasi dan membiasakan diri dengan hal-hal yang tidak nyaman untuk menjadi nyaman dan berusaha sebaik-baiknya karena peluang sebagai anak yang diterima di sebuah sekolah favorit sangatlah tidak mudah. Seorang anak harus mengerti apa arti syukur. Ibu-ibu ingat, sebuah ayat yang menyatakan bahwa bila kita bersyukur maka akan ditambah nikmatnya, bila tidak bersyukur maka siksaKu sangat pedih, sesuai dengan firman Allah dalam Al Quran surah Ibrahim ayat 7.”

Uraian panjang lebar dari ustadz Ghufron membuat hati bu Maya sangat tidak nyaman. Siapa sih anak di dunia ini yang mau punya suasana sekolah tidak enak. Semua orangtua pastilah sedih bila melihat anaknya tidak mampu beradaptasi dan tidak memiliki kawan di sekolah yang baru, walaupun sekolah tersebut dikenal sebagai sekolah terbaik dan dikenal sebagai sekolah favorit, jadi rebutan dan hanya anak-anak pintar saja yang diterima di sekolah tersebut. Ditambah lagi teori sang ustadz terhadap kondisi anak bu Maya, sungguh hal ini tidak sesuai dan tidak nyaman bagi bu Maya sendiri yang sangat tahu anaknya seperti apa.
Ingin menyanggah sang ustadz, namun waktu bu Maya tidak memungkinkan dan rasanya tidak sopan. Budaya di Indonesia, seorang ustadz atau pembicara adalah benar dan selalu benar, sementara si pendengar adalah pihak yang diberitahu, maka membuat bu Maya menjadi malas untuk menyanggah. Tujuan bu Maya untuk ikut acara seminar pendidikan sehari ini adalah agar mendapatkan ilmu mengenai pendidikan anak. Di sela sesi tanya jawab, bu Maya menanyakan: bagaimana agar anaknya betah di sekolah dan mampu beradaptasi dengan baik karena bila dikeluarkan dari sekolah rasanya sangat sayang karena sekolahnya adalah sekolah favorit yang masuknya pun sangat susah. Namun bu Maya tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ya, bu Maya benar dan sang ustadz pun tidak salah.
Tidak ada kata absolut atau mutlak benar untuk sebuah kasus, apalagi kasus tersebut menimpa personal. Maka yang paling tahu apa yang harus dilakukan adalah orangtua anak itu sendiri karena sebuah kasus yang menimpa seorang anak itu dilihat daripada latar belakang keluarga dan background kehidupan sebelumnya. Selain itu masa kecil si anak, perlakuan orangtua pada anak dan banyak lagi, pola asuh orangtua yang sedikit banyak mempengaruhi keadaan dan kehidupan serta kebiasaan si anak, juga mempengaruhi kasus-kasus yang terjadi pada seorang anak.
Teori pendidikan tidak ada yang seratus persen benar atau tepat, yang sebetulnya terjadi adalah cocok atau tidaknya kita dengan teori tersebut, tepat atau tidak teori tersebut dengan kasus kita dan hal ini semua kembali pada keluarga masing-masing. Istilahnya bagaimana mereka mendidik anak, maka kasus-kasus dan penyelesaiannya akan tergantung pada pola didik dan pikiran sang orangtua bukan tergantung pada pendidikan manapun. Jadi seorang ibu atau ayah tidak perlu terlalu repot ikut seminar pendidikan setiap minggu, ikutlah hanya sebagai sarana untuk menambah ilmu dan menambah wawasan. Namun setiap keputusan maupun jalan pendidikan yang dibuat adalah tergantung pada orangtua itu sendiri, tidak tergantung pada seminar maupun teori manapun dan yang jelas solusi setiap anak dalam sebuah keluarga tentu saja berbeda walaupun anak tersebut datang dari rahim yang sama.
Jadi kembali pada kasus diatas, bila bu Maya ataupun banyak orangtua berharap bahwa masalah anaknya akan selesai dengan ceramah sang ustadz atau dengan trainer darimanapun, maka untuk menjawab semua permasalahan anak, ketahuilah bahwa kuncinya ada pada orangtua itu sendiri. Pahamilah sang anak sebagai individu sama sepertinya ketika diri kita juga ingin dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Carilah akar permasalahan yang membuat anak tidak betah, baru kemudian dicari solusi yang terbaik dengan tentunya tidak lepas memohon petunjuk dari Allah.

Diasuh oleh Mam Fifi (Fifi Proklawati Jubilea SE, MSc.)
Beliau adalah founder and conceptor Jakarta Islamic School.eramuslim

Saturday, 29 December 2012

Sekolah Gratis, Kualitas atau Formalitas?


Sekolah Gratis, Kualitas atau Formalitas?
Murid-murid Sekolah Dasar Negeri (ilustrasi).

Menengok beberapa tahun ke belakang, wajah dunia pendidikan boleh dikatakan cukup terpuruk. Anggaran dana yang katanya sampai 20%, jelas-jelas tak terlalu dirasakan secara merata oleh para pelajar. Terlebih bagi mereka yang memiliki semangat tinggi untuk bersekolah tapi terbentur biaya yang mahal.
Berbagai opini pun bermunculan sebagai reaksi dari ketidaksesuaian penerapan program tersebut. Dan kebanyakan memberikan statement buruk berupa sindiran, “Ke mana anggaran yang 20% itu?”

Tapi akhirnya keresahan itu terjawab. Di tahun 2012, semua sekolah mulai dari SD, SMP, sampai SMA (khususnya di DKI Jakarta) yang tercakup dalam program wajib belajar 12 tahun benar-benar digratiskan secara total.

Cukup melegakan memang, namun nyatanya tak serta merta kita dapat mengatakan hal tersebut sebagai solusi jitu. Mengapa? Di sinilah kita sebagai masyarakat harus mencermati secara detil tiap keputusan yang diambil para pemimpin kita. Ada beberapa dampak kurang baik yang kemungkinan besar bisa terjadi akibat keputusan untuk menggratiskan semua sekolah.

Pertama, dari segi keseriusan belajar para siswa bisa jadi akan berkurang akibat menyepelekan gratisnya sekolah.

Pada saat sekolah mahal, beberapa lapisan memang mengeluhkan sulitnya memperoleh pendidikan yang layak. Namun sisi baiknya adalah, para pelajar yang memahami betapa berharganya pendidikan yang harus dibayar dengan banyaknya rupiah, secara sadar akan menghargai setiap ilmu pengetahuan yang didapatnya.

Berbeda dengan ketika kondisinya semua digratiskan. Akan ada banyak kalangan yang menganggap remeh pendidikan yang hakikatnya gratis adalah untuk memudahkan, tapi pada implementasinya lebih mengarah kepada memanjakan.

Kedua, “adil itu tak berarti sama”.

Jika dalam sebuah keluarga ada dua orang anak, anak pertama berusia 17 tahun dan anak kedua berusia 7 tahun, sang ayah justru akan disebut tidak adil ketika memberikan uang saku sama besarnya pada mereka berdua. Sebab, kebutuhan mereka berbeda.

Begitu pun dengan gratisnya semua sekolah. Rasanya tak adil jika sekolah-sekolah yang notabene adalah sekolah yang siswanya berasal dari anak-anak pengusaha kaya bahkan para pejabat pemerintahan, ikut digratiskan pula.

Efeknya akan berimbas pada kebutuhan internal sekolah itu sendiri, seperti gaji untuk para guru honor, perbaikan sekolah secara berkala, gaji penjaga sekolah, petugas keamanan sekolah, dan biaya-biaya tak terduga lain yang jumlahnya tak bisa dianggap kecil. Biaya subsidi yang ada dan diberikan pemerintah, rasanya tak cukup untuk menutupi semua kebutuhan tersebut.

Itulah sebabnya, beberapa pihak hari ini mempertanyakan program gratis belajar yang “dipukul rata” ini pada dasarnya ingin memajukan kualitas pendidikan atau hanya sekadar formalitas menjalankan janji politik?

Solusi terbaik yang pernah dilakukan pemerintah adalah “Subsidi Silang”. Pembebanan biaya tetap diberikan kepada siswa-siswa mampu, dan penggratisan diberikan kepada para siswa kurang mampu yang memiliki keinginan untuk belajar.

Kelemahan dalam penerapan program subsidi silang selama ini adalah tidak tepatnya sasaran subsidi tersebut. Masih lemahnya koordinasi dinas pendidikan menyentuh masyarakat menengah ke bawah, membuat program ini banyak yang jatuh ke tangan orang-orang yang sebenarnya bukan merupakan target utamanya.

Jika subsidi silang sudah dapat diterapkan dengan baik dan hasilnya telah memenuhi standar operasional yang ditentukan, maka sisa dari anggaran dana pendidikan bisa digunakan untuk pembangunan yang lebih besar seperti perbaikan akses jalan dan peningkatan kualitas pendidikan di daerah-daerah terpencil yang ada di negeri ini. Sederhananya, lebih baik sebagian dananya digunakan untuk memperbaiki jalan, membangun jembatan, dan mengadakan pelatihan khusus bagi pengajar di pelosok-pelosok ketimbang dana tersebut dikucurkan untuk menggratiskan sekolah anak-anak dari keluarga mampu. Sebab, saya yakin mereka pun takkan keberatan jika sekolah tetap berbayar.

Tentunya kita miris ketika ada tayangan di televisi, yang memberitakan ada banyak daerah di Indonesia yang jumlah sekolahnya sedikit dengan jarak yang cukup jauh dari permukiman siswanya. Puluhan kilometer harus ditempuh anak-anak itu dengan berjalan kaki.

Mereka kadang harus menerobos hutan, menyeberangi sungai hanya dengan dua utas tali besar yang dibentangkan dari satu sisi ke sisi lain sungai tersebut, seutas tali digunakan untuk pijakan, dan seutas lainnya untuk pegangan mereka. Kita mengenal alat semacam itu biasanya digunakan dalam permainan outbound. Tapi ini sama sekali bukan permainan, ini adalah realita dari anak-anak negeri yang menggantungkan masa depannya di atas perjuangan mereka mempertaruhkan nyawa.

Indonesia bukan hanya milik kota-kota besar. Daerah-daerah terpencil pun punya hak yang sama untuk mendapat perhatian dari pemerintah. Bahkan, bisa jadi di daerah-daerah tersebut justru banyak bibit-bibit baru manusia berkualitas yang amat disayangkan jika kualitas pendidikannya tidak didukung oleh kepedulian pemerintah.

Semoga ke depan, Indonesia akan benar-benar dapat menghilangkan noda hitam yang hari ini sudah terpampang jelas di pelupuk mata rakyatnya. Jika setiap individu mampu bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan berusaha bermanfaat untuk orang lain, maka terciptanya Indonesia sejahtera bukan lagi hanya semboyan belaka, namun juga akan menjadi kenyataan manis yang meninggikan nilai negeri ini di mata dunia.[]



Rohmat Syaifuddin/www.republika.co.id

Tentang Kurikulum Baru


Kurikulum Baru, Siswa SD akan Belajar Lebih Utuh
Para siswa SD di Manusela
 
 Siswa sekolah dasar (SD) akan merasakan perubahan mendasar dalam sistem pengajaran sekolah di 2013. Kurikulum baru yang akan diterapkan tahun depan, memungkinkan siswa SD untuk belajar utuh tentang satu tema dalam satu hari.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, dengan pendekatan tematik integratif, para siswa tidak harus belajar mata pelajaran berbeda di setiap jam pelajaran. "Misalnya, siswa SD belajar dengan tema tentang air. Guru bisa menjelaskan jika air dapat dipakai untuk berwudhu. Air juga bisa dipakai membangkitkan generator listrik. Lalu listrik akan membuat kehidupan masyrakat sejahtera," jelasnya, Sabtu (8/12). Jadi dengan satu tema air itu, siswa akan belajar tiga mata pelajaran sekaligus yakni  IPA. Agama, dan IPS.

Dia juga meyakini, dengan pendekatan tersebut, belajar akan jadi lebih menyenangkan bagi siswa SD. ''Isinya bercerita tentang kehidupan sehari-hari kita namun dengan pendekatan keilmuan. Mereka diajakl melakukan observasi, menalar, memformulasikan, mencoba dan sebagainya,'' kata Nuh. Dengan belajar sesuai dengan konteks dan alam pemikiran usia anak-anak, Nuh berharap pelajaran akan lebih mudah terserap.
Sebetulnya, pendekatan tematik ini sudah diterapkan di sejumlah sekolah dan hasilnya sangat positif. Karena itu, sistem tersebut diadopsi oleh Kemendikbud dan diberlakukan secara nasional. Nuh menambahkan, alangkah ruginya jika hanya sekolah-sekolah 'top' saja yang bisa menikmati sistem pembelajaran seperti ini. ''Hanya karena kita tidak peka terhadap perubahan zaman, bisa diprotes sama anak-anak ini kelak, siapa Mendikbud ketika itu,'' ujarnya. /www.republika.co.id

Pendidikan Di Indonesia

Masalah Pendidikan di Indonesia
Pendidikan untuk anak-anak tak mampu merupakan salah satu masalah sosial (ilustrasi).

Pendidikan adalah suatu penentu agar bangsa kita dapat melangkah lebih maju dan dapat bersaing dengan negara–negara lainnya. Melihat kekayaan alam Indonesia yang melimpah, sangat disayangkan apabila semua kekayaan alam di Indonesia tidak dapat diolah dan dimanfaatkan oleh anak Indonesia sendiri. Hal ini terjadi karena kurangnya Sumber daya manusia yang berkualitas, di mana pendidikan menjadi titik tolak dari keberhasilan suatu negara.

Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dan keterbatasan biaya bagi anak yang kurang mampu, membuat pendidikan di negara ini menjadi suatu masalah yang cukup kompleks. Dibutuhkannya peran dari pemerintah dalam membangun pendidikan.

Gambaran ini tercermin dari banyaknya anak-anak usia sekolah belum mendapatkan pendidikan yang layak, atau bahkan tidak sama sekali. Jangankan di daerah pedalaman, di ibukota sekalipun kita masih dapat menemukan anak-anak yang tidak sekolah, karena tuntutan ekonomi dan kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Sumber daya manusia yang berkualitas, tercipta dari pendidikan yang bermutu dan terstruktur dengan baik. Karena dengan begitu, akan membangun pengetahuan, sikap tertib dan rasa disiplin anak dalam menjadi individu-individu yang bermutu dan beretika. Dengan demikian, akan terlahir pula anak bangsa yang dapat melanjutkan pembangunan dan perkembangan dari negara ini.

Mengingat banyaknya penduduk dan luasnya negara Indonesia, hal ini memang bukan masalah yang mudah untuk dihadapi. Dengan peran pemerintah untuk lebih fokus dalam mementingkan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak, serta kecermatan pemerintah dalam mengembangkan potensi anak, karena tidak sedikit anak-anak yang berpotensi tidak mendapat perhatian dari negara, tetapi lebih mendapatkan perhatian dari negara lain. Bukan hal mustahil bagi Indonesia untuk menjadikan negara ini menjadi negara yang sudah siap bersaing dan menjadi negara yang lebih maju.



Rionald
Mahasiswa Psikologi Bina Nusantara/www.republika.co.id

Thursday, 27 December 2012

Ujian Nasional 2013 dan Kriteria Kelulusan

Soal Ujian Nasional 2013 Terdiri dari 20 Paket
Ujian Nasional tingkat SMA

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Soal Ujian Nasional SMA/MA SMK pada tahun ajaran 2013 telah ditetapkan sebanyak 20 paket yang masing-masing peserta soalnya tidak sama, sementara pada tahun sebelumnya hanya lima paket.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat Lalu Syafi'i di Mataram, Jumat mengatakan soal ujian di masing-masing ruangan ujian berbeda, atau setiap peserta akan mendapatkan isi teks soal yang berbeda dengan yang lainnya.

"Sementara kriteria kelulusan pada Ujian Nasional (UN) 2013 untuk SMA/MA dan SMK sama dengan tahun sebelumnya, yakni 60 persen hasil UN dan 40 persen ujian sekolah," katanya pada jumpa pers yang juga dihadiri Rektor Universitas Mataram (Unram) Prof H Sunarpi PhD, Mataram, umat (21/12).

Ia mengatakan yang berbeda adalah jika pada 2012 ujian kesetaraan regulasinya sama, maka pada 2014 baik regulasi maupun prosedur operasional standar (POS) sama dengan UN.

Dia mengatakan, pada 2013 keterlibatan perguruan tinggi pada pelaksanaan UN tersebut lebih luas, mulai dari persiapan, penyiapan pengawas, pengumuman dan pembuatan laporan.

Rektor Unram Prof H Sunarpi PhD mengatakan, UN 2013 sudah mendapatkan pengakuan dari pihak perguruan tinggi, karena hasilnya akan mulai diintegrasikan menjadi bahan yang ikut menentukan penerimaan calon mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia.

"Kalau tahun-tahun sebelumnya Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)) merupakan seleksi yang sifatnya terpisah, alhamdulillah pada 2013 hasil UN akan diintegrasikan ke dalam SNMPTN melalui jalur Penjaringan Prestasi Akademik (PPA) khususnya untuk lulusan 2013," tuturnya.

Menurut dia, hanya lulusan UN 2013 yang boleh mendaftar melalui jalur PPA yang nantinya hanya didasarkan pada dua nilai yang dibuat oleh pendidikan sebelumnya, yakni nilai rapor mulai semester I hingga V dan nilai UN.

Jadi PPA itu, kata Sunarpi, hanya ditentukan dari dua nilai yang dibuat pada jenjang pendidikan sebelumnya. Ini merupakan salah satu bentuk terintegrasinya jenjang pendidikan antara pihak Sekolah Menengah Atas dengan perguruan tinggi dengan porsi 50 persen dari lulusan SMA tahun 2013 itu.

"Alhamdulillah berarti dari tahun ke tahun apa yang kita harapkan dari UN tentang kejujuran mulai mendapatkan pengakuan dari perguruan tinggi," katanya.

Sunarpi mengatakan, mudah-mudahan mulai 2014 semkain berkurang jumlah persentase mahasiswa baru melalui yang diterima melalui seleksi terpilih, karena pada 2013 masih ada tes tertulis nasional sebesar 30 persen dan tes mandiri 20 persen dan 50 persen melalui jalur PPA yang hanya mempertimbangkan nilai rapor dan nilai UN.

"Berkaitan dengan itu tugas dan tanggung jawab perguruan tinggi cukup berat pada 2013, mulai dari perencanaan penyelenggaraan UN bersama Dinas Dikpora NTB. Rektor bersma Kadisdikpora akan duduk bersama membahas persiapan penyelenggaraan UN," ujarnya.

Wajib Ujian Nasional Bagi Sekolah Akreditasi A


Sekolah dengan Akreditasi A Wajib Ikut Ujian Nasional
Ujian Nasional tingkat SMA

SEMARANG--Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menyatakan sesuai amanat perundang-undangan sekolah yang berakreditasi A tidak mungkin terbebas dari kewajiban mengikuti ujian nasional (UN).

"Sesuai PP Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), penilaian hasil belajar dilakukan pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah," kata anggota BSNP Prof Mungin Eddy Wibowo di Semarang, Kamis.

Hal tersebut diungkapkannya menanggapi usulan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) yang merekomendasikan bahwa sekolah atau madrasah yang telah terakreditasi A tidak perlu mengikuti UN.

Menurut Mungin, UN merupakan bentuk penilaian hasil belajar yang dilakukan pemerintah sebagaimana diamanatkan Pasal 63 PP Standar Nasional Pendidikan sehingga seluruh sekolah, apapun nilai akreditasinya wajib mengikuti UN.

Ia mengungkapkan seluruh sekolah, baik yang berkategori standar, mandiri, hingga rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) wajib ikut UN. Bahkan, sekolah internasional pun juga meminta siswanya untuk ikut UN.

Guru Besar Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu mengatakan PP Standar Nasional Pendidikan juga mengamanatkan peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan dasar dan menengah, salah satunya jika lulus UN.

Terlebih lagi, kata dia, dilihat dari tujuan pelaksanaan UN, salah satunya digunakan untuk memetakan kualitas pendidikan sehingga hasil pelaksanaan UN menjadi alat pemetaan satuan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

"Kalau sekolah yang terakreditasi A tidak perlu ikut UN, jelas tidak memenuhi amanat regulasi yang telah ditetapkan. Sekolah berakreditasi A harus ikut UN untuk membuktikan bahwa kualitasnya bagus," katanya.

Mungin yang juga Ketua Umum Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (Abkin) itu mengakui hingga saat ini BSNP belum menerima rekomendasi dari BAN-S/M terkait usulan sekolah terakreditasi A tidak perlu ikut UN.

"Sejauh ini kami belum menerima rekomendasi BAN-S/M itu. Namun, jika dilihat dari amanat regulasi, terutama PP Standar Nasional Pendidikan jelas tidak memungkinkan sekolah untuk tidak mengikuti UN," katanya.

Selama ini, kata dia, BAN-S/M juga mendasarkan pada delapan SNP dari BSNP, yakni standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian.

"Selama PP Standar Nasional Pendidikan (SNP) masih mengamanatkan ya tidak mungkin sekolah tidak mengikuti UN. Kalau mau sekolah berakreditasi A tidak perlu mengikuti UN, harus mengubah regulasi," kata Mungin.

Monday, 24 December 2012

Alay sebagai Bahasa sebagai Modernisasi Bahasa Baru bagi Perkembangan ABG Masa Kini

Dahulu bahasa Indonesia adalah bahasa kekuatan yang dapat mempersatukan bangsa. Sehingga zaman dulu bisa menjalin organisasi yang bisa menguatkan bangsa dalam melawan penjajah. “ Penggunaannya pada situasi tertentu, seperti dalam acara resmi dan acara formala”.
Munculnya bahasa alay sekarang ini
Diungkapkan latar belakang munculnya bahasa alay karena seseorang ingin yang lebih efektif. Misalnya seseorang menyingkat beberapa kata dan biasanya hal tersebut terjadi kelompok tertentu saja. Seperti bahasa Gaul yang marak seperti bete, nyokap, bokap.
Munculnya bahasa alay merupakan suatu hal yang wajar. Ada dua ragam dalam bahasa yang dipaparkan yaitu : Ragam umum adalah bahasa Indonesia yang digunakan secara umum seperti surat menyurat, bahasa yang digunakan secara umum pada pengumuman dan lainya. Sedangkan ragam khusus adalah seperti dalam bahasa penulisan jurnalistik, sastra, iklan dan lainya.
Tapi saat ini dalam sebuah perkumpulan atau kelompok remaja sering menggunakan bahasa-bahasa yang luar akal, nyleneh tapi sangat dapat diterima banyak orang bahkan anak jaman sekarang. Bahasa alay biasa digunakan hanya sampai kekata miapah, teyus, enelan, cipokeh, wow dan hapakeh. Kalau SMS atau ngomong tidak sampai hurufnya pakai nomor atau  berlebihan. Ya suka-suka aja langsung keluar dengan spontan,” biasanya.
Penggunaan bahasa alay hanya untuk hiburan semata. Dalam sebuah rapat biasanya suasana yang dulunya tegang bisa dicairkan kembali dengan menggunakan kata-kata bahasa alay. “ Suasana jadi cair kembali ” seperti biasa.
Kekuranganya bahasa alay itu dapat terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Para remaja sering menggunakan bahasa alay untuk tidak melupakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.  Yang penting bahasa alay itu hanya sebagai senang-senang saja, pokoknya dapat disesuaikan dengan dimana diri.
Bahasa alay yang digunakan oleh anak baru gede (ABG) yang masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka ingin mencoba hal-hal yang baru tetapi belum bisa membedakan hal yang baik dan yang buruk. Padahal mereka gak tahu maksud apa yang sedang mereka katakan itu, seperti ciyus miapah dan cipokeh sehingga bahasa Indonesia yang kurang baik itu mereka selip-selipkan agar menjadi trend,” seperti itu.
Namun penggunaan bahasa alay yang terlalu sering bisa menjadi kebiasaan pada kehidupan sehari-hari. Akibatnya ketika orang berbicara serius dijawab dengan bahasa alay misal : ditanya lagi ada masalah apa ? malah dijawab ciyus, miapah, jadi orang malah dibikin emosi kan.
Dengan rasa ingin tahu yang besar itu mereka ingin bisa diperhatikan, mereka mereka menciptakan kata-kata seperti ciyus dan miapah. Jika tidak mengikuti tren mereka takut dibilang ketinggalan jaman. Ditambahkan internet dan jejaring sosial adalah media massa yang paling berpengaruh dalam menyebarluaskan bahasa aly. Anak muda zaman sekarang lebih sering menggunakan jejaring sosial untuk berkomunikasi.
Televisi dan media internet jejaring sosial adalah alat paling ampuh dalam penyebaran bahasa alay. Seperti halnya iklan di media massa yang menggunakan bahasa alay. Indonesia menampakkan sisi uniknya. Bahasa alay bukanlah degradasi dari bahasa Indonesia selama masih menempatkan sesuai dengan tempatnya dan sesuai penggunaanya. Kita dapat menggunakan bahasa alay jika teman-teman kita juga dapat mengimbangi bahasa alay tersebut.
Bahasa alay cenderung mempunyai kelompok yang menggandrunginya. Pada awalnya bahasa alay terjadi saat SMS menggandrungi anak usia remaja yang sangat senang bermain SMS. Kemudian lama-kelamaan bahasa alay menjadi bahasa lisan yang cukup digandrungi anak ABG zaman sekarang ini, bahkan mungkin hampir menjamah kaum ibu-ibu muda yang masih bisa dibilang gaul oleh anak-anaknya.
Berharap saja remaja yang sering menggunakan bahasa alay dapat mengontrol dirinya untuk tidak melupakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa alay hanya untuk hiburan semata. Dalam sebuah rapat biasanya suasana yang dulunya tegang bisa dicairkan kembali dengan menggunakan kata-kata bahasa alay. “ Suasana jadi cair kembali ” seperti biasa./hanifah

Friday, 21 December 2012

Pentingnya Mendongeng bagi Pendidikan Anak

  Mendongengkan Anak
 Menceritakan dongeng dapat menjadi hal yang menarik untuk anak-anak. Dalam hal ini, akan banyak manfaat dari membaca cerita-cerita untuk anak-anak Anda. Mungkin, Anda masih tidak mengerti tentang alasan mengapa Anda harus melakukannya dan bagaimana hal itu akan membawa dampak yang signifikan kepada anak-anak Anda. Jangan khawatir karena penjelasan berikut ini akan memberitahu Anda betapa pentingnya mendongeng pada anak-anak Anda.
Sebenarnya, memperkenalkan dongeng kepada anak-anak Anda bukanlah tugas yang rumit yang harus dilakukan setiap saat. Anda dapat memberitahu kepada mereka secara lisan atau membaca buku-buku untuk mereka. Selama menceritakan kisah Anda, mereka dapat meningkatkan imajinasi mereka dan mungkin menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, mereka akan belajar lebih banyak tentang bagaimana mengatakan sesuatu kepada orang lain di sekitar mereka. Mereka juga akan belajar tentang bagaimana untuk memulai sebuah cerita, bagaimana mengungkapkan perasaan mereka dan sebagainya.
Dan kemudian, dongeng dapat membuat mereka belajar banyak tentang moralitas dan mulai membangun sikap. Anda dapat memberitahu mereka tentang hal-hal sederhana yang tercermin dalam cerita itu, termasuk tentang perilaku baik dan buruk, efek jika mereka melakukan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan teman-teman mereka dan seterusnya. Jelas, itu adalah pendidikan dan akan sangat inspiratif bagi mereka.
Mengapa Anda memilih dongeng bukan cerita biasa? Anda tahu bahwa pilihan pertama akan memberi mereka pengalaman yang menyenangkan. Mungkin, mereka akan menemukan istilah seperti sapu ajaib, raja dan ratu, penyihir, dan sebagainya. Namun, berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka menemukan di kehidupan sehari-hari akan membawa sesuatu yang baru bagi mereka. Hal ini menghibur dan menarik sama sekali.
Juga, penting untuk memperhatikan intonasi dan meniru. Pastikan bahwa Anda memberitahu mereka seperti Anda adalah pendongeng terkenal dengan ekspresi terbaik Anda.  Kemudian Anda akan melihat wajah anak-anak yang ingin tahu lebih banyak tentang cerita Anda. Manfaat terakhir adalah bahwa Anda bisa lebih dekat dengan anak-anak Anda dan memahami apa yang ingin mereka lakukan dan miliki.http://mendidikanakanak.blogspot.com