Tahun ajaran baru 2012/2013
sudah diambang pintu. Hal ini akan mengingatkan kita kembali pada
tahun-tahun sebelumnya. Pergantian tahun ajaran selalu menyisakan
cerita kesusahan orang tua. Orang tua siswa khususnya
keluarga menengah ke bawah sering mengeluh karena besarnya biaya yang
mesti dikeluarkan pada setiap tahun ajaran baru. Terlebih lagi bagi yang
mempunyai anak lebih dari 2 orang yang sedang di bangku sekolah.
Judul: Menyikapi Tahun Ajaran Baru 2012/2013
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Diulas Oleh Edy Samsul
Sangat disayangkan, jika siswa yang masih berada pada usia wajib belajar tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan
berikutnya dengan alasan orang tua kekurangan biaya. Atau, sangat
disesalkan bila siswa terancam putus sekolah (drop out) karena orang tua
kesulitan untuk membiayai pendidikan anaknya.
Seperti diketahui, pemerintah sudah menetapkan wajib belajar 9 tahun sejak belasan tahun silam. Minimal seorang anak mendapat pendidikan minimal sampai jenjang SMP sederajat. Beberapa tahun ke depan, pemerintah akan mencanangkan wajib belajar 12 tahun. Minimal anak dapat menamatkan pendidikan SMA sederajat. Berita ini tidak asing lagi di telinga kita. Hal ini membuktikan betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan anak dan bangsa Indonesia.
Menyikapi tahun ajaran baru 2012/2013 sesuai dengan peranan masing-masing. Bagi siswa sendiri, tahun ajaran baru
sudah semestinya disikapi dengan kesederhanaan. Tidak mesti diawali
dengan perangkat dan keperluan sekolah yang serba baru. Jika masih ada
dan layak pakai perangkat dan keperluan sekolah tahun sebelumnya,
alangkah bagusnya digunakan lagi pada tahun ajaran ini. Sikap sederhana
ini merupakan buah dari pendidikan karakter di sekolah.
Bagi orang tua siswa, tentunya tidak ada istilah menyerah untuk melanjutkan pendidikan anak ke tingkat kelas atau ke jenjang pendidikan berikutnya. Orang tua menyadari bahwa, pendidikan anak merupakan investasi terbesar dalam keluarga. Sebagai investor pendidikan, orang tua akan merasakan hasilnya di kemudian hari, minimal kebanggaan atas keberhasilan mendidik putra dan putri mereka.
Bagi pihak sekolah,
tentulah memiliki analisa dan pertimbangan tertentu untuk menetapkan
keperluan belajar yang berkaitan dengan uang. Sebaliknya, pihak
pemerintah dan masyarakat yang peduli dengan pendidikan diharapkan dapat mengambil ancang-ancang kembali untuk menyediakan beasiswa dan bantuan lainnya guna menunjang kelancaran pendidikan anak.***

Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Diulas Oleh Edy Samsul
No comments:
Post a Comment