Showing posts with label pendidikan karakter. Show all posts
Showing posts with label pendidikan karakter. Show all posts

Saturday, 5 July 2014

Konsep Pendidikan Ibnu Miskawaihi

Beberapa Pokok Pikiran Miskawaihi Tentang Etika & Pendidikan

1. Jiwa dan Jisim
Psikologi Miskawaihi bertumpu pada ajaran spiritualistik tradisional Plato dan Aristoteles dengan kecenderungan Platonis. Pada tulisan awalnya Ibnu Miskawaihi menyatakan keterkaitan antara pembentukan watak dengan pendidikan dan ilmu jiwa. Katanya "Tujuan kami menyusun kitab ini (Tahzi-bul Akhlak) adalah untuk menghasiikan bagi diri kita suatu watak pribadi yang melahirkan perilaku yang baik seluruhnya dengan gampang, tak dibuat-buat lagi tanpa kesulitan (maksudnya perilaku yang baik lahir dari watak itu secara otomatis). Hal demikian diperoleh melalui proses pendidikan dan jalan untuk demikian lebih dahulu dipelajari ilmu jiwa. Apa dan bagaimana jiwa itu? Untuk apa dia dciptakan, kesempurnaannya, tujuannya, kemampuannya "sifatnya" yang bila kita pergunakan/ bina sebagaimana mestinya, niscaya jiwa itu akan-membawa kita, kepada martabat yang mulia. Dan perlu pula kita pelajari faktor-faktor yang menghambat jiwa itu dalam rnenuju martabat yang mulia, apa saja yang mensucikannya dan apa yang mengotorinya, maka karena itu Tuhan berfirman dalam Surah as-Syams ayat 10 :
"Beruntunglah orang yang membersihkannya dan rugilah orang yang meno-dainya"7
"Jiwa itu menurut Ibnu Miskawaihi adalah zat pada diri kita yang bukan berupa jisim, bukan pula bagian dari jisim, bukan pula aradh (sifat peserta pada substansi) wujudnya tidak memerlukan potensi tubuh, tapi dia jauhar basith (substansi yang tidak berdiri atas unsur-unsur) tak dapat diindra oleh pengindraan".8
Jiwa itu mempunyai aktifitas yang berlainan dengan aktifitas jisim serta bagian-bagiannya dengan segala sifat-sifatnya hingga tidak menyertainya dalam segala hal. Bahkan juga berbeda dengan sifat aradl (accident) jisim serta berlainan sama sekali dengan jisim dan sifat-sifat aradl, Tegasnya jiwa itu bukan jisim, bukan pula bagian dari jisim dan bukan pula sifat aradly. Jiwa itu tidak mengambil ruang, tidak berobah. Dia (jiwa) dapat menanggapi segala sesuatu secara serentak bersamaan dan tidak mengalamy penyusutan, rusak atau berku-rang.9
Ibnu Miskawaihi memberi penjelasan lagi akan hal tersebut di atas bahwa tiap jisim mempunyai shurah. Dia tidak akan menerima shurah lain yang dari jenis shurah pertama kecuali sesudah jisim melepaskan sama sekali shurah yang pertama. Contohnya bila jisim sudah menerima suatu shurah / syakal umpamanya segitiga, maka dia tidak akan menerima lagi syakal lain misalnya segi empat, bundar atan lainnya, kecuali bila jisim melepaskan syakal pertama (segitiga). Demikian pula bila jisim menerima shurah lukisan atau tulisan maka jisim itu tidak dapat menerima shurah lukisan/tulisan lainnya kecuali sesudah shurah lukisan pertama/terdahulu lenyap samasekali. Bila shurah terdahulu tetap masih ada bersisa, maka jisim tidak dapat menerima secara utuh shurah yang datang kemudian lalu terjadilah campur aduk antara kedua shurah itu, tak ada salah satupun diantara dua shurah itu yang bersih samasekali.10 Contoh lain, sebatang lilin bilamana sudah menerima shurah lukisan yang dicapkan atasnya, lilin itu tidak akan menerima cap lukisan berikutnya kecuali jika shurah lukisan yang lama dihapuskan. Demikianlah hukum yang berlaku pada jisim.
Berbeda halnya dengan sifat-sifat jiwa itu menerima semua shurah dari segala sesuatu secara menyelurah yang bermacam-macam, baik yang mahsusaat (segala sesuatu yang diindera) ataupun yang berupa ma'qulaat (pengertian-pengertian) dengan sempurna, tanpa melepaskan shurah yang terdahulu atau menggantikannya ataupun melenyapkannya, bahkan gambaran (shurah) terdahulu dengan sempurna tetap bertahan, juga shurah yang datang berikutnya tersimpan dengan sempurna. Kemudian jiwa terus menerus menerima shurah demi shurah tanpa kelelahan dan kealpaan ketika menerima shurah baru datang. Bahkan shurah terdahulu bertambah kuat dengan kedatangan shurah berikutnya. Inilah sifat-sifat khusus pada jiwa yang berlainan dengan sifat-sifat khusus pada jisim. Karena faktor inilah penalaran dan pemahaman manusia berkembang teras manakala dia terlatih dan berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan dan kebudayann. Jadi jiwa itu bukanlah jisim.11

Macam-macam kekuatan jiwa
Tiga macam kekuatan Alquwwah nafsiyah yang dikemukakan Ibnu Miskawaihi. Pertama Quwwatun Natigah (daya pikir) dinamai juga Quwwatun Malakiyah merupakan fungsi tertinggi, kekuatan berpikir, melihat fakta. Alat yang dipergunakannya dari dalam badan adalah otak. Kedua Quwwatun Ghodabiyah (daya marah) yakni keberanian menghadapi resiko, ambisi pada kekuasaan, kedudukan dan kehormatan. Kekuatan ini disebut juga Quwwatun Sab'iyah (daya kebuasan). Alat yang dipergunakan dalam badan adalah hati. Ketiga, Quwwatun Syahwiyah (nafsu) disebut juga Quwwatun Bahimiyyah (daya hewany), yakni dorongan nafsu makan, keinginan kepada kelezatan makanan / minuman/seksualitas dan segala macam kenikmatan indrawy (Allazzatulhissiya) alat yang dipergunakannya dari dalam badan manusia adalah "perut".
Ketiga macam kekuatan ini berbeda-beda pada setiap orang. Salah satu-nya kuat, yang lain lemah tergantung pada perangainya, adat kebiasaan atau pendidikannya.
Dari masing-masing tiga macam kekuatan jiwa tersebut (natiqah, gha-dabiyah, syahwiyah) lahir fadlilah-fadlilah sewaktu gerak aktivitasnya normal (mu'tadilah), serasi dan seimbang. Bila gerakan jiwa natiqah normal, tidak menyimpang dan hakikatnya, dan kecenderungannya kepada ilmu pengetahuan yang benar lahirlah fadlilah al-'Ilmu lalu al-Hikmah. Bilamana gerak jiwa bahimiyah serasi seimbang, dibawah kontrol daya jiwa natigah/agliyah, patuh kepadanya, tidak hanyut mengikuti hawa nafsu lahirlah fadlilah 'iffah (kebersihan diri) lalu As Sakhaa'u (kedermawanan). Bila gerak daya jiwa ghodabiyah serasi seimbang, patuh kepada petunjuk jiwa aqliyah, tidak bergejolak diluar batas, terjadilah fadlilah al-Hilmu (kesantunan) lalu disusul fadlilah as Saja'ah (keberanian). Dan tiga macam fadlilah (al-hikmah, al 'Iffah dan as saja'ah) di dalam keseimbangan dan keserasian satu sama lain lahirlah al adlaalah. Dengan demikian, maka para hukama (failosof) bersepakat menetapkan bahwa jenis fadilah empat yaitu: al-Hikmah, al-'Iffah, as-Saja'ah dan al Adlaalah.12 Adapun lawannya empat pula yaitu al Jahl (bodoh), as Syarh (rakus) al Jubn (takut) dan Al Jaur (kelaliman). Al Hikmah (kebijakan) ialah fadlilah sifat utama dari jiwa natigah, jiwa pikir kritis analitis (Annatiqah almumayyizah) untuk mengetahui (mengenali) segala yang ada karena keberadaannya, atau untuk mengetahui hal ihwal ketuhanan dan hal ihwal kemanusiaan. Dengan demikian pengetahuan membuahkan pengenalan tentang al ma'qulat (pengertian-pengertian tentang hal yang abstrak/yang metafisis) secara kritis analitis, mana yang benar dipegangi, mana yang salah dibuangnya.
Al-Iffah (kesucian diri) sifat utama pada pengindraan nafsu syahwat al Hissussyahwani. Sifat utama ini nampak pada waktu seseorang mengendalikan nafsunya (setelah responsi indra terhadap suatu stimulus) dengan pertimbangannya yang sehat sehingga dia tidak tunduk pada nafsunya itu, dia bebas dari perbudakan hawa nafsunya.
As-Saja'ah (keberanian) adalah sifat utama pada jiwa ghodlabiyah. Sifat ini nampak pada manusia ketika jiwa ghodlabiyah itu dikendalikan oleh sifat utama al-Hikmah dan dipergunakan sesuai dengan akal pikiran untuk menghadapi masalah-masalah yang punya resiko, umpamanya tidak gentar menghadapi perkara-perkara yang menakutkan. Dia atasi perkara itu bila sikap demikian dipandang baik atau dia menahan diri bila sikap demikian dipandang terpuji. Al-Adaalah (keseimbangan) adalah sifat utama pada jiwa sebagai produk dari integrasi (ijtima1) yang serasi dari tiga unsur jiwa yang telah disebutkan, dimana unsur al Hikmah merupakan faktor yang dominan. Dengan keberadaan al Adaalah itu, manusia memiliki simatun (ada tulisan Arab) ciri. Pilihannya (sebagai balanced individual) yaitu dia bagian dari dirinya sendiri dan bagian dari orang lain (bagian dari masyarakat).
Masing-masing dari keempat fadlilah tersebut di atas membawahi sifat-sifat yang baik lainnya.
a. Al Hikmah membawahi sifat-sifat zakaa1 (kecerdasan), zikr (ingatan), ta'aqqul (reasoning), sur-'atul fahmi (cepat mengerti), shafaa zihni (kebeningan pikiran), suhulatut ta-allum (gampang belajar).
b. Al 'Iffah, sifat utama ini membawahi sifat-sifat yang baik, hayaa (rasa malu), wada-ah (tenang pembawaan), shabr (sabar menahan gejolak nafsu), saikhaa (cukup pemurah), hariyyah (kepantasan), qana'ah (bersahaja), damaatsah (kelembutan), musalamah (suka kedamaian), intizhaam (kerapian), waqaar (sopan/anggun), wara' (teguh mental).
c. As-Saaja'ah, sifat yang utama yang dibawahinya adalah kibrun nafs (jiwa besar), najaah (berani nantang bahaya), azhrnul himmah (tinggi cita-cita), tsabaat (tabah), shabr (sabar dalam menghadapi bahaya), hilmu (santun), 'adamut thaisyi (tidak lemah mental), ihtimaalul kaddi (punya daya tahan tubuh), syahaamah (energik).
d. Al Adaalah. Sifat utama yang berada di bawah al Adaalah yaitu: shadaaqah (persaudaraan), ulfah (kerukunan), silaturahim (silaturrahmi), mukafa'ah (suka memberi imbalan), husnussyirkah (baik dalam persekutuan husnulqadlaa (baik dalam pemberian jasa tanpa penyesalan dan minta imbalan), tawaddud (upaya mendapatkan simpati dari orang-orang mulia dengan jalan tatap muka yang manis dan dengan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan cinta kasih dari mereka), ibadah (mengagungkan Tuhan, mentaatiNya, memuliakan malaikat dan para Nabi dan alim utama, dan beramal sebagaimana digariskan agama dan ketaqwaan achir dari segalanya, tarkul hiqdi (meninggalkan perasaan sentimen), membalas kejahatan dengan kebaikan), mempergunakan keramahan), dalam segala hal selalu beralasan prestige/harga diri, menjauhi persengketaan, meninggalkan pergunjingan, dan lain sebagainya dari sifat-sifat baik dalam hubungan antara manusia.


2. Pendidikan

Cita-cita pendidikan sebagaimana yang dimaksudkan Miskawaihi di-isyaratkanya dalam awal kalimat kitab Tahzibul Akhlak ialah terwujudnya pribadi susila, berwatak yang lahir daripadanya perilaku-perilaku luhur, atau berbudi pekerti mulia. Dan budi (jiwa/watak), lahir pekerti (perilaku) yang mulia. Untuk mencapai cita-cita ini haruslah melalui pendidikan dan untuk melaksanakan pendidikan perlu mengetahui watak manusia atau budi pekerti manusia.
a. Apakah watak itu dapat dididik?
Ibnu Miskawaihi dalam maqalah kedua membahas tentang al-Khulq (watak) itu ialah suatu kondisi bagi jiwa yang mendorong untuk melahirkan tingkah laku tanpa pikir dan pertimbangan (tingkah laku spontan). Kondisi ini terbagi dua. Ada yang alamy dari asal mizaaj (temperament) seperti sifat pada seorang manusia yang mudah terpengaruh/bereaksi oleh suatu hal yang sederhana. Umpama marah disebabkan suatu faktor yang kecil, atau takut sebab yang sederhana dan lain-lain seperti mudah kaget karena dengan suara gemerisik, mudah sedih, mudah senang, mudah tertawa disebabkan hal perangsang yang sederhana.
Kedua ialah watak seorang yang diperoleh dari kebiasaan/latihan yang berulang-ulang, pada mulanya perilaku itu disertai kesengajaan atau pikiran kemudian berkelanjutan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan/watak. Karena itu kata Miskawaihi para ahli jaman dahulu berbeda pendapat. Sebagian mereka mengatakan bahwa watak itu adalah tertentu bagi kekuatan jiwa selain kekuatan jiwa natigah. Sebagian lain mengatakan ada juga aspek dari kekuatan jiwa natiqah pada watak itu. Perbedaan kedua adalah apakah watak itu alamy. Sebagian mengatakan watak itu alamy tak dapat dirubah. Sebagian lain mengatakan tak ada sesuatu pun pada watak itu yang alamy.
Kami sendiri, kata Miskawaihi - tidaklah berpendapat watak itu tidak alamy. Kita diciptakan atas dasar menerima watak, namun kita berubah berkat pendidikan dan pengajaran cepat atau lambat. Pendapat terakhir inilah pilihan kami karena sesuai dengan kesaksian mata kita. Pendapat pertama (yang mengatakan watak itu alamy dan tak dapat dididik) menyampingkan kekuatan tamyiz (penalaran) serta akal dan menolak segala upaya serta membiarkan manusia tidak beradab, menelantarkan para remaja dan anak-anak tanpa pendidikan.14
Kemudian Miskawaihi mengemukakan pendapat golongan Ruwwaqiyyun (Stoicism), Jalinus (Galer, 131-201 SM) dan pendapat Aristoteles tentang watak manusia. Golongan Rawwaqiyyun berpendapat bahwa watak itu dasaraya baik, kemudian karena pengaruh pergaulan watak yang baik itu menjadi buruk Sedang Jalinus berpendapat bahwa sebagian watak manusia pada dasarnya (alamy) jahat, sebagian lagi mengatakan watak itu dasarnya baik, diantara mereka ada yang mengatakan dasar watak itu tengah-tengah antara baik dan buruk. Mereka yang wataknya baik alamy sedikit; mereka tidak akan berubah menjadi buruk. Sedang mereka yang wataknya buruk alamy banyak, mereka tidak akan berubah menjadi baik. Mereka yang wataknya berada di tengah-tengah diantara balk dan buruk dapat berubah menjadi baik jika mendapat pengaruh pendidikan yang baik dan berubah menjadi buruk jika mendapat pengaruh pendidikan yang buruk Kemudian Miskawaihi mengutip pendapat Aristoteles yang dijadikannya pegangan.
Menurut Aristoteles orang jahat/watak buruk dapat berubah dengan pendidikan namun tidak mutlak. Pengajaran dan pendidikan yang berkelanjutan serta bimbingan yang baik yang diupayakan manusia tentulah akan memberi pengaruh yang berbeda-beda terhadap bermacam-macam orang. Ada diantara mereka yang menerima pendidikan dengan cepat sedang sebagian yang lain menerimanya dengan lambat untuk menuju keutamaan.
Temperament adalah pembawaan yang bergantung kepada konstitusi tubuh. Kemungkinan mengubah atau mendidik temperament hanyalah sedikit sekali, karena dalam temperament terdapat unsur-unsur yang tidak dapat dipengaruhi kemauan. Adapun watak adalah keadaan atau konstitusi jiwa yang nampak dalam perbuatan-perbuatannya. Watak bergantung kepada pembawaan dan lingkungan hidup (pergaulan hidup, pendidikan). Jadi watak bergantung kepada kekuatan dari dalam dan dari luar. Begitulah karakter (watak) Lebih luas dari temperament. Temperament terdapat dalam karakter. Karakter dapat diubah dan dididik 15

b. Perbedaan Individual

Ibnu Miskawaihi mengemukakan bahwa manusia dalam menerima pendidikan bermacam-macam tingkatan. Hal demikian mudah disaksikan pada anak-anak, karena watak mereka nampak wajar sejak mula perkembangan, terbuka apa adanya tidak diselubungi dengan pikiran-pikiran dan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana halnya orang dewasa yang memahami apa yang buruk bagi dirinya lalu ditutup-tutupinya dengan bermacam-macam tipu muslihat dengan perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan perangainya itu.
Kita mengetahui dari watak anak serta kesiapan mereka dalam menerima didikan ada diantara mereka yang kasar ada pula yang pemalu, pemurah, kikir, penyayang, keras, dan sebagainya. Kebermacaman itu kita lihat pula pada orang-orang dewasa dalam menerima didikan budi pekerti utama. Bila kita abaikan perbedaan-perbedaan watak individual ini lalu tidak kita didik sebagaimana mestinya, maka tiap orang akan tumbuh sesuai dengan watak individualnya itu, mungkin dia tumbuh jadi baik atau buruk. Maka disinilah pentingnya pendidikan agama (pendidikan normatif). Agamalah yang dapat meluruskan anak-anak dan mendidik mereka dengan perilaku yang terpuji dan mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima "hikmah".
Tanggung jawab orang tualah pelaksanaan pendidikan agama ini dengan pelbagai upaya, kalau perlu meapergunakan ancaman hukuman sampai mereka terbiasa hidup beragama.16

c. Metode alamy (Thariqun Thabi-iy) dalam pendidikan
Setelah menguraikan perbedaan individual manusia dan diperlukannya pendidikan untuk membina perkembangan individual itu, Miskawaihi kemudian mengemukakan penggunaan thariqun thab'iyyun (metode alamiyah) dalam mendidik. Metode alamiyah itu bertolak dari pengamatan terhadap potensi-potensi insany. Mana yang muncul lahir lebih dahulu, maka pendidikan diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan potensi yang lahir dahulu itu, kemudian kepada kebutuhan potensi berikutnya yang lahir sesuai dengan hukum alam. Potensi yang muncul pertama kali adalah gejala umum yang ada pada tingkat kehidupan hayawani dan nabati, kemudian terus-menerus lahir suatu gejala khusus yang berbeda dengan gejala potensi macam lain sampai menjadi tingkat kehidupan insany. Maka dari itu kata Miskawaihi - wajib bagi kita mulai dengan hasrat (kecenderungan) akan makan, yang muncul pada diri kita dengan jalan memenuhi kebutuhan kecenderungan, lalu muncul kecenderungan ghodlabiyah dan cinta kemuliaan, kita didik dengan jalan memenuhi kecenderungan, kemudian terakhir lahir kecenderungan kepada ilmu pengetahuan (dari jiwa natiqah) maka kita didik dengan jalan memenuhi kecenderungan itu.
Urutan kemunculan inilah yang kami (Miskawaihi) maksudkan thabi'iy (alamy), karena didasarkan proses kejadian manusia, yakni pertama kali embrio lalu bayi kemudian orang dewasa. Potensi-potensi mi lahir berurutan secara alamiyah.17
Ide pokok dari thariqun thabi'iyyun dari Miskawaihi ialah bahwa pelaksanaan kerja - mendidik itu hendaknya didasarkan atas perkembangan lahir batin manusia. Setiap tahap perkembangan manusia mempunyai kebutuhan psycho-phisiologis dan cara mendidik hendaklah memperhatikan kebutuhan ini sesuai dengan tahap perkembangannya.

d. Fungsi Pendidikan

1) Memanusiakan manusia
Setiap makhluk di dunia ini mempunyai kesempurnaan khusus dan perilaku yang spesifik baginya yang tidak ada makhluk lain yang menyertainya pada perilaku itu. Maka manusia diantara segala makhluk yang ada mempunyai perilaku khusus yaitu segala yaitu segala perilaku yang lahir dari pertimbangan nalar akal pikirannya. Karena itu siapa yang pertimbangannya paling jernih penalarannya paling benar, keputusannya paling tepat, adalah orang yang paling sempurna martabat kemanusiaannya . Manusia yang paling utama adalah orang yang paling mampu menunjukkan perilaku yang khas padanya dan yang paling teguh berpegang kepada syarat-syarat substansinya (daya pikir) yang membedakan dia dengan makhluk lainnya. Maka, kewajiban yang tidak diragukan lagi ialah berbuat kebajikan yang merupakan kesempurnaan manusia yang untuk itu mereka diciptakan dan agar mereka berupaya sungguh-sungguh untuk sampai pada kebajikan (al khairaat) itu, dan agar manusia menghindari kejahatan-kejahatan (as-syurur) yang menghambat mereka sampai kepada kebaikan. 19
Oleh karena itu tugas pendidikan adalah mendudukkan manusia sesuai dengan substansinya sebagai makhluk yang termulia dan makhluk lainnya. Hal itu ditandai dengan perilaku dan perbuatan yang khas bagi manusia yang tak mungkin dilakukan makhluk yang lain.
2) Sosialisasi individu manusia
Pendidikan haruslah merupakan proses sosialisasi hingga tiap individu merupakan bagian integral dari masyarakatnya dalam melaksanakan kebajikan untuk kebahagiaan bersama. Miskawaihi menyatakan bahwa kebajikan itu sangat banyak dan tak mungkin mewujudkan seluruh kebajikan dari kemampuan satu orang manusia. Oleh karena itu kata Miskawaihi untuk mewujudkan seluruh kebajikan itu haruslah jama ah besar. Jadi seluruh individu berhimpun pada suatu waktu untuk mencapai kebahagiaan bersama. Kebahagiaan tiap individu sempurna berkat pertolongan lainnya. Kebajikan menjadi milik bersama. Kebahagiaan dibagi-bagikan kepada individu hingga masing-masing bertanggung jawab atas bagian dan kebahagiaan itu. Kamalul insany/human perfection tercapai berkat gotong royong itu. Untuk hal demikian wajiblah manusia saling mencintai satu sama lain, karena masing-masing orang melihat kesempurnaanya berada pada orang lain. Kalau tidak saling mencintai, tidaklah sempurna kebahagiaanya. Jadi tiap orang merupakan anggota dari anggota badan. Rangka manusia sempurna dengan utuhya anggota-anggota badan.20 Miskawaihi menegaskan lagi bahwa manusia di antara segala makhluk , hewan tak dapat mandiri dalam menyempumakan essensinya sebagai insan, tetapi pasti dengan pertolongan dari golongan manusia lain. Dia dapat mencapai kehidupan yang baik dan melaksanakan kewajibannya dengan tepat. Manusia pada dasarnya adalah anggota masyarakat. Di tengah-tengah masyarakat tenvujud kabahagiaan insaniyahnya. Setiap orang memerlukan orang lain. Dia sewajarnya bergaul dengan masyarakat sebaik-baiknya, mencintai mereka setulus-tulusnya.
3) Menanamkan rasa malu
Manusia diciptakan dengan kekuatan-kekuatan potensial dan kekuatan-kekuatan itu tumbuh secara alamiyah. Kekuatan yang mula-mula muncul ialah tuntutan biologis, yakni kecenderungan syahwaniyah seperti makan unruk mengembangkan fisik. Tuntutan biologis ini terus berkembang ke berbagai kecenderungan-kecenderungan keinginan. Kemudian menyusul timbul kekuatan imaginasi yang timbul dari pengindraan. Sesudah itu muncul kekuatan ghodabiyah/kekuatan kemauan untuk bertindak mengatasi hambatan atau untuk memenuhi kecenderungan. Bila gagal mengatasi sendiri, menangislah anak itu, atau dia minta bantuan kepada orang tuanya. Setelah itu lahir kekuatan tamyiz/pertimbangan nalar (perkembangan intelektualitas) terhadap perilaku-perilaku khas manusiawi sedikit demi sedikit hingga sempurna. Pada tingkat perkembangan ini, anak dinamai aqil (L'enfant fait). Kekuatan-kekuatan ini banyak, sebagiannya secara fundamental mendorong terwujudnya sebagjan kekuatan yang lain sehingga tercapai tujuan perkembangan terakhir 9tingkat akhir perkembangan akal insany), Tujuan yang tak ada lagi tujuan lainnya, yaitu "al-Khair al-mutlaq". Kebajikan mutlak yang diinginkan manusia sebab dia manusia.
Pertama-tama yang muncul dari kekuatan-kekuatan ini pada manusia adalah rasa malu (al-hayaa'u), yaitu rasa takut lahirnya sesuatu yang jelek dari dirinya. Karena itu - kata Miskawaihi - pertama-tama yang harus diamati benar-benar pada anak-anak dan dipandang tanda awal perkembangan akalnya adalah timbulnya rasa malu karena hal itu menunjukkan bahwa anak sudah menginsafi tentang keburukan. Disamping keinsafan tentang keburukan anak juga berupaya memelihara dirinya dan menjauhi keburukan itu.
Ibnu Mskawaihi menandai gejala ini dengan perilaku anak seperti - kata Miskawaihi - bila kau amati anak-anak dan kau dapati dia tersipu-sipu, matanya menunduk ke bawah, wajahnya sayu, maka itu tandanya awal dari kebagusan bawaanya dan menjadi bukti bagimu bahwa jiwa sudah mengerti kebaikan dan keburukan. Jiwa yang demikian berbakat untuk dididik, pantas diberi perhatian, wajib tidak ditelantarkan dan jangan dibiarkan bergaul dengan orang-orang yang dapat merusaknya.21
"Dari pikiran Miskawaihi diatas jelaslah bahwa penanaman rasa malu adalah fungsi pendidikan yang penting dan penanaman ini dimulai sedini mungkin yakni pada awal munculnya gejala jiwa tamyiz, yakni perkembangan anak mulai berpikir kritis dan logis pada waktu mereka duduk di sekolah dasar, pada umur antara 10-12 tahun. Anak telah dapat mengenal aturan kesusilaan serta tahu bagaimana dia harus bertingkah laku (Bigot).22
e. Ilmu Pengetahuan yang dipelajari

Ibnu Miskawaihi menempatkan ilmu ke dalam suatu kedudukan berdasarkan obyek ihnu itu. Ilmu yang paling mulia menurat Miskawaihi adalah ihnu pendidikan karena obyeknya adalah budi pekerti manusia, menyangkut substansi manusia.. Ilmu kedokteran, adalah obyeknya manusia, juga merupakan ilmu pengetahuan yang mulia. Segala ilmu pengetahuan yang mengembangkan quwwatun natiqah (daya pikir) adalah ilmu yang paling mulia. Sebab jiwa natiqah selalu condong kepada ilmu pengetahuan, lambang kesempumaan dan kemuliaan manusia. Sebaliknya pengetahuan tentang menyamak kulit dipandang hina karena obyeknya adalah kulit bangkai hewan.
Dengan dasar pemikiran tersebut Ibnu Miskawaihi membagi ilmu kepada dua golongan : al-ulumul syarifah (ilmu-ilmu yang mulia) dan al-ulumul radli'ah (ilmu-ilmu yang hina). Martabat suatu ilmu sesuai dengan urutan martabat hakekat obyek iknu itu dalam alam ini, misalnya ilmu tentang manusia lebih mulia dari obyek hewann, ilmu hewan lebih mulia dari tumbuh-tumbuhan. Dari pemikiran Miskawaihi, kita memahami bahwa kecenderungan Miskawaihi kepada ulumul aqliyah, sebagai ihnu yang utama dipelajari karena menunjang tercapainya kualitas manusia yang sempurna.


 Sumber  ; http://fai-unisma-malang.blogspot.com

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT TOKOH MUSLIM

PEMIKIRAN PARA TOKOH PENDIDIKAN ISLAM

I. KONSEP PENDIDIKAN IBN MISKAWAIH
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Ibn Miskawaih
Nama lengkap beliau adalah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’kub Ibn Miskawaih. Ia lahir pada tahun 320 H/932 M. di Rayy, dan meninggal di Isfahan pada tanggal 9 shoffar tahun 412 H/16 februari 1030 M. Ia hidup pada masa pemerintahan dinasti Buaihi (320-450 H/932-1062 M) yang sebagian besar pemukanya bermadzhab Syi’ah.

B. Konsep Pendidikan Ibn Miskawaih
Pada dasarnya untuk memahami pemikiran Ibn Miskawaih tentunya tidak bisa dilepaskan dari konsepnya tentang manusia dan akhlaq. Berikut uraianya :
1. Konsep Manusia
Ibnu Maskawaih memandang bahwa manusia sebagai makhluq yang memiliki macam-macam daya. Yaitu :
a. Daya nafsu (Sebagai daya terendah yang berasal dari unsur materi)
b. Daya berani (Sebagai daya tengah yang juga berasal dari unsur materi )
c. Daya berpikir (Sebagai daya tertinggi yang berasal dari ruh Tuhan)
Dari beberapa pembagian tentang manusia tersebut, ibn Miskawaih mempunyai pandangan bahwa daya nafsu dan daya berani akan hacur bersama badan, akan tetapi daya berpikir tidak akan pernah mengalami kehancuran.

2. Konsep Akhlaq
Konsep akhlaq yang di tawarakan oleh Ibn Miskawaih lebih di dasarkan pada doktrik jalan tengah. Dengan pengertian bahwa jalan tengah adalah dengan keseimbangan, moderat, harmoni, utama, atau posisi tengah diantara dua ekstrem. Akan tetapi Ibn Miskawaih lebih menitik beratkan pada posisi tengah antara ekstrem kelebihan dan ekstreem kekurangan masing-msing jiwa manusia. Dari keterangan diatas dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa ibn Miskawaih lebih memberi tekanan pada pribadi.
Menurut Ibn Miskawaih, jiwa manusia di bagi menjadi menjdi tiga, yakni :
a. al-bahimiyyah, yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat
b. al-ghadabiyah, yaitu kebernian yang diperhitungkan dengan masak untung ruginya.
c. an-nathiqah. Yaitu kebijaksanaan.
Ibn Miskawaih menegaskan bahwa setiap keutamaan memiliki dua sisi yang ekstreem. Yang tengah bersifat terpuji dan yang ekstrem bersifat tercela.



3. Konsep Pendidikan
3.1. Tujuan Pendidikan Akhlaq
Adapun tujuan pendidikan akhlaq adalah terwujudya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang baik. Sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati.
3.2. Materi Pendidikan Akhlaq
Untuk mencapai tujuan yang di rumuskan oleh ibn maskawaih tentunya ada beberapa hal yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Ibn maskawaih menyebutkan tiga pokok yang dapat dipahami sebagai meteri pendidikan akhlaqnya, yakni :
a. Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan manusia
b. Hal-hal yang wajib bagi jiwa
c. Hal-hal yang wajib bagi hubunganya dengan manusia.
3.3. Pendidik dan Anak Didik
Keberadaan pendidik (Guru) merupakan instrumen yang sangat penting, begitupun keberadaan anak didik. Keduanya dapat menciptakan sinergitas untuk membangun pendidikan. Akan tetapi, Ibn Maskawaih juga menerangkan bahwa keberadaan orang tua merupakan bagian dari instrumen pendidikan yang penting pula.
Terkait dengan pendidik, Ibn Maskawaih menempatkan posisi yang tinggi itu adalah guru yang berderjat mu’allim al-misal, al-hakim, atau al-mu’allim al-hikmat.
3.4. Lingkungan Pendidikan
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, Ibn Maskawaih Berpendapat bahwa usaha untuk mencapai kebahagiaan tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bersama atas dasar saling menolong dan saling melengkapi. Maka, sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan kondisi yang baik diuar dirinya, yakni lingkungan. Karena lingkungan yang baik akan turut serta dalam menentukan proses pendidikan.
3.5. Metodologi Pendidikan
Dalam hal ini Ibn Maskawaih lebih menitik beratkan pada metodologi perbaikan akhlaq. Seperti beberapa metode yang di ajukan oleh Ibn Maskawaih dalam mencpai akhlaq yang baik, yaitu :
a. Adanya kemauan yang bersungguh-sungguh untuk berlatih terus menerus dan menahan diri untuk memperoleh keutamaan dan kesopanan yang sebenarnya sesuai dengan keutamaan jiwa.
b. Dengan menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin bagi dirinya. Tentunya pengetahuan dan pengalaman yang baik.

II. KONSEP PENDIDIKAN AL-QABISI
A. Sekilas tentang riwayat Al-Qabisi
Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Muhammad Khalaf al-ma’rifi al-Qabisi. Ia lahir di Kairawan, Tunisia, pada bulan rojab, tahun 224 H. Bertepatan dengan 13 mei tahun 936M. Ia pernah merantau ke beberapa negara timur tengah pada tahun 553 H/963 M. Selama 5 tahun, kemudian kembali ke negeri asalya dan meninggal dunia pada tanggal 3 rabi’ul awal 403 H.




B. Konsep Pendidikan Al-Qabisi
Selain ahli dalam bidang hadits dan fiqh, Al-Qabisi juga di kenal ahli dalam pendidikan. Hal ini dapat diketahui mealui beberapa pemikiranya dibawah ini :
1. Pendidikan Anak-anak
Al-Qabisi memiiki perhatian yang besar terhdap pendidikan anak-anak yang berlangsung di kutab-kutab. Menurut beliau mendidik anak-anak merupakan upaya yang amat setrategis dalam rangka menjaga kelangsungan bangsa dan negara. Adapun instrumen penting dalam mendidik anak adalah guru yang tidak hanya menguasai berbagai materi pelajaran dan cara penyampaian, lebih dari itu juga di barengi dengan budi pekerti yang mulia dan mempunyai teladan baik
2. Tujuan Pendidikan
Adapun tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Al-Qabisi adalah pendidikan mampu untuk menumbuh kembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar serta mampu untuk membekali anak dengan kertampilan dan keahlian yang nantinya dapat mendukung kemampuan dalam mencari nafkah.
3. Kurikulum
Dilihat dari sisi pelaran (kurikulum) yang di ajarkan kepada anak didik, Al-Qabisi membagi kuurikulum kedalam dua bagian, dengan uraian sebagai berikut :
3.1. Kurikulum Ijbari
Kurikulum ijbari secara harfiah berarti kurikulum yang merupakan keharusan bagi setiap anak. Kurikulum ini terdiri dari kandungan ayat-ayat Al-Qur’an seperti sembahyang dan do’a - do’a, ditambah dengan penguasaan terhadap ilmu nahwu dan bahasa arab yang keduanya mrupakan persyaratan mutlak untuk memantabkan bacaan Al-Qur’an, tulisan dan hafalan Al-Qur’an.
3.2. Kurikulum Ihtiyari
Kurikulum ini berisi ilmu hitung dan seluruh ilmu nahwu, bahasa arab, syair, kisah-kisah masyarakat Arab, sejarah islam, ilmu nahwu dan bahasa arab lengkap.
Dalam kurikulum ini, Al-Qabisi lebih menekankan pada materi tentang ketrampilan yang dapat menghasilkan produksi kerja dan mampu membiayai hidupnya dimasa yang akan datang.

4. Metode dan Tehnik Belajar
Selain membicarakan tentang kurikulum, Al-Qabisi juga berbicara tentang metode dan tehnik mempelajari mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum tersebut. Misalnya tentang metode menghafal Al-Qur’an, menurut beliau menghfal dan menulis Al-Qur’an ditetapkan atas pemilihan waktu yang terbaik yaitu pada waktu pagi-pagi selama seminggu terus menerus dan bari istirahat sejak waktu setelah dhuhur hari kamis sampai hari jum’at. Kemudian belajar lagi pada hari sabtu pagi hingga minggu berikutnya. Dan Al-Qabisi juga sangat detail dalam memperhatikan waktu.
5. Percampuran Belajar Antara Murid Laki-laki dan Perempuan
Percampuran belajar antara laki-laki dan perempuan juga menjadi perhatian Al-Qabisi. Beliau tidak setuju jika ada percampuran karena tidak baik bagi anak-anak. Jika ditelisik secara seksama, anak remaja yang mengalami fase puberts masih belum memliki ketenangan jiwa dan dihawatirkan adanya kerusakan pada moral.

6. Demokrasi dalam pendidikan
Dalam hal ini Al-Qabisi mempunyai pandangan bahwa anak-anak yang masuk dalam kuttab tidak ada perbedaan derajat atau martabat. Baginya, pendidikan adalah hak setiap orang tanpa menutup pengecualian
Untuk mendukung terlaksananya demokrasi, Al-Qabisi menganjurkan agar orang-orang Islam yang berkemampuan material hendaknya mau membantu biaya pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu.

III. KONSEP PENDIDIKAN AL-MAWARDI
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Al-Mawardi
Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali Ibn Muhammd Ibn Habib Al-Basyri. Ia dilahirkan di Basyrah pda tahun 364 H. Bertepatan dengan tahun 974 M. Beliau wafat di Baghdad pada tahun 450 H / 1058 M.

B. Pemikiran Al-Mawardi dalam Bidang Pendidikan
Pemikiran Al-Mawardi dalam bidang pendidikan sebagian besar terkonsentrasikan pada masalah etika hubungan antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Dalam pandangan Al-Mawardi, seorang guru yang memiliki sikap tawadlu (rendah hati) serta menjauhi sikap ujub (besar kepala).
Selanjutnya, selain sikap tawadlu juga harus bersikap ihlas serta mencintai tugas-tugasnya sebagai seoang guru. Al-Mawardi juga melarang seorang mengajar dan mendidik atas dasar motif ekonmi. Dalam pandanganya, menajar dan mendidik merupakan aktifitas keilmuan dan tidak dapat disejajarkan dengan materi.
Dalam hal ikhlas, sorang guru diharapkan untuk dapat melaksanakan tugsnya dengan profesional. Hal ini ditandai oleh beberapa sikap sebagai berikut :
1. Selalu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan gna mendukung pelaksanaan proses belajar mengjajar.
2. Disiplin terhadap peraturan waktu
3. Penggunaan waktu luang akan diarahkan untuk kepentingan profesionalnya.
4. Ketekunan dan keuletan dalam menjalankan tugasnya.
5. Memiliki daya kreasi dan inofsi yang tinggi.

IV. KONSEP PENDIDIKAN IBN SINA
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Ibn Sina
Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Al-Husayn Ibn Abdullah. Beliau lahir pada tahun 370 H / 980 M di Afshana, suatu daerah yang terletak di dekat Bukhara, dikawasan asia tengah. Ayahnya bernama Abdullah dari Balkh, Suatu kota termasyhur dikalangan orang-orang Yunani.

B. Konsep Pendidikan Ibn Sina
Pemikiran Ibn Sina dalam hal pendidikan antara lain berkenan dengan tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, guru dan pelaksanaan hukuman dalam pendidikan.
1. Tujuan Pendidikan
Menurut ibn Sina, tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kearah perkembanganya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu, pendidikan harus mampu untuk mempersiapkan seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang dimilikinya.
Khusus mengenahi pendidikan yang bersifat jasmani, hendaknya pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti olahraga, makan, minum, tidur dan menjaga kebersihan.
Tampaknya, sekilas tentang tujuan pendidikan yang dikemukkan oleh ibn Sina didasarkan pada pandangan tentang insan kamil (manusia sempurna). Yaitu manusia yang terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh.

2. Kurikulum
Konsep Kurikulum yang dibangun oleh Ibn Sina didasarkan pada perkembangan usia anak didik. Misalnya untuk usia 3 sampai 5 tahun diberikan mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara dan kesenian.
Selanjutnya, kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun mencakup pelajaran membaca dan menghafalkan Al-Qur’an, pelajaran agama, syair dan pelajaran olahraga. Sedangkan kurikulum untuk anak 14 tahun ke atas di bagi menjadi dua, yaitu : pelajaran yang bersifat teoritis dan praktis. Materi yang bersifat teoritis meliputi : ilmu tentang materi dan bentuk, gerak dan perubahan, wujud dan kehancuran, tumbuh-tumbuhan, hewan, kedokteran, astrologi, kimia, yang secara keseluruhan tergolong ilmu-ilmu fisika. Selain itu, juga terdapat ilmu matematika, dan ketuhanan. Selanjutnya, untuk materi yang bersifat praktis adalah ilmu akhlaq, pengurusan rumah tangga, politik.
Dari uraian tersebut, tampak bahwa konsep kurikulum yang ditawarkan ibn Sina memiliki tiga ciri, yaitu :
a. Konsep kurikulum ibn Sina tidak hanya terbatas pada pada sekedar penyusunan sejumlah mata pelajaran, melainkan juga disertai dengan penjelasan tentang tujuan dan kapan mata pelajaran itu harus diajarkan.
b. Strategi penyusunan kurikulum juga didasarkan pada peikiran yang bersifat pragmatis fungsional.
c. Strategi pembentukan kurikulum Ibn Sina tampak dipengaruhi oleh pengalaman dalam dirinya.

3. Metode Pengajaran
Metode pengajaran yang ditawarkan ibn Sina antar lain metode talqin (mengjarkan Al-Qur’an dengan cara memperdengarkan), demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, dan penugasan.

4. Konsep Guru
Konsep yang ditawarkan oleh Ibn Sina berkisar tentang guru yang baik. Guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara pendidik akhlaq, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main dihadapan muridnya.

5. Konsep Hukuman dan Pengajaran
Ibnu sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Ibn Sina menyadari bahwa manusia memiliki naluri yang selalu ingin disayang, tidak suka diperlakukan kasar.
V. KONSEP PENDIDIKAN AL-GHAZALI
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Al-Ghozali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghozali. Ia dilahirkan di Thus, sebuah kota di Khurasan, Persia, pada tahun 450 H / 1058 M.

B. KONSEP PENDIDIKAN AL-GHOZALI
Konsep pendidikan yang di tawarkan oleh Al-Ghozali meliputi tujuan penidikan, kurikulum, metode, etika guru dan murid. Berikut uraianya :
1. Tujuan Pendidikan
a. Tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah.
b. Tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia akhirat.
2. Kurikulum
Menurut Al-Ghozali, konsep mata pelajaran yang seharusnya diajarkan dan masuk kedalam kurikulum didasarkan pada dua kecenderungan sebagai berikut :
a. Kecenderungan agama dan tasawuf.
b. Kecenderungan pragmatis

3. Metode Pengajaran.
Perhatian Al-Ghozali dalam bidang metode ini lebih ditujukan pada metode khusus bagi pengajaran agama anak-anak. Untuk itu ia mencotohkan sebuah metode keteladanan bagi mental anak-anak, pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan diri mereka. Pada metode pengajaran Al-Ghozali lebih di tekankan pada pembentukan moral yang baik dan sesuai dengan aturan-aturan agama.

4. Kriteria guru yang baik.
Menurut Al-Ghozali, guru yang dapat diserahi tugas mengajar adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akalnya dan fisiknya..
Selain sifat-sifat umum yang harus dimiliki guru, seorang guru pun harus memiliki sifat-sifat khusus atau tugas-tugas tertentu sebagai berikut :
a. Kalau praktek mengajar dan peyuluhan maka sifat yang harus dimilikinya adalah rasa kasih sayang
b. Seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya.
c. Seorang guru hendaknya berfungsi sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur.
d. Seorang guru hendaknya menggunakan cara yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekersan, cacian, makian dan sebagainya.
e. Sorang guru harus tampil sebagai teladan atau panutan di hadapan muridnya.
f. Seorang guru harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual, dan memperlakukan sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu.

5. Sifat Murid Yang Baik
Sejalan dengan tujuan pendidikan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Dengan dasar pemikiran ini maka seorang murid yang baik dalah murid yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Seorang murid harus berjiwa bersih.
b. Seorang murid yang baik juga harus menjauhkan diri dari persoalan duniawi, mengurangi keterikatan dengan dunia agar tidak mengganggu lancarnya penguasaan ilmu.
c. Seorang murid hendaknya bersikap rendah hati.

VI. KONSEP PENDIDIKAN BURHANUDDIN AZ-ZARNUJI
A. Sekilas Tentang Riwayat Burhanuddin Az-Zarnuji
Nama lengkapnya adalah Burhanuddin Al-Islam Azzarnuji. Dikalangan ulama’ belum ada kepastian mengenai tanggal kelahirannya. Adapun mengenai wafatnya ada dua pendapat yang dapat dikemukakan. Pertama, Burhanuddin Azzarnuji wafat pada tahun 591H / 1195 M. Kedua, ia wafat pada tahun 840 H / 1243 M.

B. Konsep Pendidikan Azzarnuji.
Konsep yang dikemukakan Azzarnuji secara monumental dituangkan dalam karyanya Ta’lil Al-Muta’allim Thuruq Al-Ta’allum. Dari kitab tersebut dapat diketahui tentang konsep pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Az-Zarnuji. Secara umum kitab ini mencakup tiga belas pasal yang singkat-singkat, yaitu :
1. Pengertian ilmu dan keutamaanya
2. Niat kala belajar
3. Memilih ilmu, guru dan teman serta ketabahan dalam belajar.
4. Menghormati ilmu dan ulama’
5. Ketekunan, kontinuitas dan cita-cita luhur.
6. Permulaan dan intensitas belajarserta tata tertibnya.
7. Tawakkal kepada Allah
8. Masa belajar
9. Kasih sayang dan memberi nasihat
10. Mengambil pelajaran
11. Wara (menjaga diri dari yang haram dan subhat)
12. Penyebab hafal dan lupa
13. Masalah rezeki dan umur.

VII. KONSEP PENDIDIKAN IBN JAMA’AH
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Ibn Miskawaih
Nama lengkapnya adalah Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Sa’ad Allah ibn Jama’ah ibn Hasyim ibn Sakhr ibn Abd Allah al-Kinany. Beliah lahir di Hamza, Mesir, pada malam sabtu, tanggal 4 Rabiul akhir, 639 H/1241 M. Beliau wafat pada pertengahan malam akhir senin, tanggal 21 Jumadil ula tahun 733 H/1333M., dimakamkan di Qirafah. Dengan demikian usia beliau adalah 64 tahun 1 bulan 1 hari.

B. KONSEP PENDIDIKAN IBN JAMA’AH
Konsep pendidikan yang di kemukakan oleh Ibn Jama’ah secara keseluruhan dituangkan dalam karyanya Tadzkirat as-Sami’ Wa Al-mutakallimin fi adab al-Alim wa al-Muta’allimin. Di dalam buku tersebut ibn Jama’ah mengemukakan tentang keutamaan ilmu pengetahuan dan orang-orang yang mencarinya serta etika orang yang berilmu termasuk para pendidik ; kewajiban guru terhadap peserta didik, mata pelajaran, etika peserta didik, etika dalam menggunakan literatur serta etika tempat tinggal bagi para guru dan murid. Berikut uraianya :
1. Konsep Guru / Ulama’
Menurut Ibn Jama’ah bahwa guru sebagai ulama’ mikrokosmos manusia dan secara umum dapat dijadikan sebagai tipologi makhluq terbaik.
Dalam hal ini Ibn jama’ah menawarkan sejumlah kriteria yang harus dipenuhi seseorang yang akan menjadi guru. Yakni :
1.1. Menjaga akhlaq selama melaksanakan tugas pendidikan
1.2. Tidak menjadikan profesi guru sebagai usaha untuk menutupi ekonominya.
1.3. mengetahui situasi sosial kemasyarakatan.
1.4. Kasih sayang dan sabar.

2. Peserta didik
Manurut ibn jama’ah, peserta didik yang baik adalah peserta yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan untuk memilih, memutuskan dan mengusahakan tindakan-tindakan belajar dengan mandiri, baik yang berkaitan dengan aspek fisik, pikiran, sikap maupun perbuatan.

3. Materi Pelajaran / Kurikulum
Materi pel;ajaran yang dikemukakan oleh ibn jama’ah terkait dengan tujuan belajar yaitu semata-mata untuk menyerahkan diri kepada Allah. Tujuan semacam inilah yang merupakan esensi dari tujuan pendidikan Islam yang sesunggunya.
Terkait dengan tujuan tersebut, maka materi pelajaran yang diajarkan harus berkaitan dengan etika dan nilai-nilai spiritualitas. Sedangkan urutan mata pelajaran yang dikemukakan oleh ibn Jama’ah adalah sebagai berikut : Pelajaran Al-Qur’an, tafsir, hadits, ulumul hadits, ushul fiqh nahwu dan shorof.
Apabila dibedakan berdasarkan muatan materi dan kurikulum yang dikembangkan ibn jama’ah kiranya ada dua hal yang dipertimbangkan. Pertama, Kurikulum dasar yang menjadi acuan dan paradigma pengembangan disiplin lainya. Kurikulum ini secara secara konkret dijelaskan dengan kurikulum agama dan bahasa. Kedua, kurikulum pengembangan yang berkenaan dengan dengan mata pelajran non agama, tetapi tinjauan yang dipakai adlah kurikulum yang pertama diatas.
4. Metode Pembelajaran
Pada tingkatan metode pembelajaran, Ibn Jama’ah lebih menekankan pada metode hafalan, karena metode hafalan sangat penting dalam proses pembelajaran. Sebab, ilmu diperoleh bukan dari tulisan di buku melainkan dengan pengulangan secara terus menerus.

5. Lingkungan Pendidikan
Menurutnya, lingkungan yang baik adalah lingkungan yang didalamnya mengandung pergaulan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etis.

VIII. KONSEP PENDIDIKAN IBN TAIMIYAH
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Ibn Taimiyah
Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abd al-Halim bin Taimiyyah. Beliau lahir di kota Harran, wilayah Syiria, pada hari senin 10 rabi’ul awal 661 H/22 Januari 1263. Dan wafat di Damaskus pada malam senin, 20 zulkaidah, 728 Hijriyah/26 september 1328M. Ayahnya bernama Syihab ad-Din ‘Abd al-Halim Ibn as-Salam (627-672H). adalah seorang ulama’ besar yang mempunyai kedudukan tinggi di Masjid Agung Damaskus.

B. Konsep Pendidikan Ibn Taimiyah
Pemikiran Ibn Taimiyah dalam bidang pendidikan dapat dibagi kedalam pemikiranya dalam bidang falsafah pendidikan, tujuan pendidikan, kurikulum dan hubungan pendidikan dengan kebudayaan. Tentunya, pemikiran tersebut di bangun berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Semuanya itu secara signkat dapat dikemukakan sebagai berikut:


1. Falsafah Pendidikan
Menurut ibn Taimiyah bahwa menuntut ilmu itu merupakan ibadah dan memahaminya secara mendalam merupakan sikap ketakwaan kepada Allahdan mengkajinya merupakan jihad, mengajarkan kepada orang yang belum tau dan mendiskusikanya merupakan tasbih.

1.1. At-Tauhid
Menurut Ibn Taimiyah bahwa hal yang terpenting yang harus mendasarkan falsafah pendidikan adalah at-tauhid, yaitu menyatakan dua kelimah syahadah sebagai pangkal utama ajaran Islam.
Tauhid yang menjadi asas pendidikan itu menurut ibn taimiyah dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Tauhid rububiyah
Meyakini bahwa Allah itu esa, yang menciptakan semua mahluq, mengatur dan membimbingnya.
b. Tauhid uluhiyyah
Meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya tuhan yang pantas disebut tuhan, di taati dan dipatuhi segala perintahnya serta menjauhi segala laranganya.
c. Asmma dan sifat
Meyakini bahwa segala yang berjalan dalam kenyataan di alam raya ini merupakan aturan Tuhan.

1.2. Tabi’at Insaniyah
Menurut ibn Taimiyah bahwa manusia dikaruniai tabi’at atau kecenderungan mengesakan tuhan sebagaimana terkandung dalam falsafah pendidikan.

2. Tujuan Pendidikan
Menurut Ibn Taimiyah Tujuan pendidikan di bagi menjadi tigal hal, yaitu :
2.1. Tujuan Individual
Pendidikan diarahkan pada pembentukan pribadi muslim yang baik, yaitu seorang yang berfkir, merasa dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu sejalan dengan apa yang diperintahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah

2.2. Tujuan Sosial
Pendidikan juga harus diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah
3. Kurikulum
Dalam hal ini kurikulum dalam arti mata pelajaran dapat dikemukakan melalui empat tahab, yaitu
3.1. Kurikulum yang berhubungan dengan mengesakan tuhan
3.2. Kurikulum yang berhubungan dengan mengetahui secaara mendalam terhadap ilmu-ilmu Allah.
3.3. Kurikulum yang berhubungan dengan upaya mendorong manusia mengetahui secara mendalam terhadap kekuasaan Allah
3.4. Kurikulum yang berhubungan dengan upaya yang mendorong untuk mengetahui perbiuatan Allah

4. Metode Pengajaran
Menurut ibn Taimiyah pada garis besarnya metode pengajaran dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu metode ilmiyah dan metode iradiyah. Berikut uraianya

4.1. At-Thoriqoh al-islamiyah (metode ilmiyah)
Ibn Taimiyah menamai metode imiyah karena dengan metode itulah akan dijumpai pemikiran yang lurus dalam memahami dalil, argumen dan sebab-sebab yang menyampaikan pada ilmu.

4.2. At-Thoriqoh al-Iradah
Ibn Taimiyah menamai metode At-Thoriqoh al-Iradah karena metode ini yang menghantarkan seseorang pada pengamalan ilmu yang diajarkanya.

IX. KONSEP PENDIDIKAN ABDULLAH AHMAD
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup Abdullah Ahmad
Abdullah Ahmad dilahirkan di Padang Panjang pada tahun 1878. ia adalah putera H. Ahmad, seorang ulama’ minangkabau yang senantiasa mengajarkan agama di surau-surau, disamping sebagai saudagar kain bugis

B. Konsep Pendidikan Abdullah Ahmad
Konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Abdullah Ahmad meliputi tiga aspek yang fundamental, yaitu aspek kelembagaan, aspek metode dan aspek kurikulum. Berikut uraianya :
1. Aspek Kelembagaan
Dalam hal ini Abdullah Ahmad lebih menitik beratkan pada pola pengelolahan lembaga serta menempatkan guru sesuai dengan keahliaanya.

2. Aspek Metode pengajaran
Dalam hal ini, Abdullah Ahmad menfokuskan pada metode debatting club, Yakni metode diskusi. Dalam metode ini memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada murid untuk bertanya dan berdialog secara terbuka tentang berbagai hal yang menyangkut masalah agama yang pada saat itu masih dianggab tabu dan kurang dianggap beradab.

3. Aspek Kurikulum
Konsep kurikulum yang di bawa oleh Abdullah Ahmad adalah konsep kurikulum pendidikan integrated, yaitu terpadunya antara pengetahuan umumdengan pengetahuan agama serta bahasa dalam program pendidikan sebagaimana tercantum dalam setiap rencana pembelajaran.

X. KONSEP PENDIDIKAN K.H. AHMAD SANUSI
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup K.H. Ahmad Sanusi
Ahmad dilahirkan pada tanggal 3 muharrom 1306 H/18 september 1888M. di Desa Cantayan, kecamatan Cibadak, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ayahnya bernama K.H. Abdurrohim bin H. Yasin, seorang pengasuh pondok pesantren di Cantayan. Ahmad Sanusi merupakan anak ketiga dari istri pertama, ia wafar pada tanggal 15 syawal thun 1369H/1950.

B. Konsep Pendidikan K.H. Ahmad Sanusi
Pemikiran Ahmad Sanusi dalam bidang pendidikan dapat diketahui melalui upaya-upaya yang dilakukan sebagai berikut :
1. Upaya Memajukan Pendidikan
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Ahmad Sanusi adalah membentuk lembaga pendidikan ibtida’iyah dan Madrasah diniyah. Dilembaga ini diajarkan selain pengetahuan agama juga pengetahuan umum.

2. Sistem, Metode dan Kurikulum
Kurikulum yang yang disuguhkan oleh Ahmad Sanusi adalah kurikulum khusus dalam bidang pelajaran agama. Dalam hal ini pelajaran yang ditekankan adalah pelajaran ilmu tafsir dan ilmu alat (nahwu shorof) Sedangkan metode yang dipakai adalah metode sorogan yang dipadukan dengan metode diskusi.

XI. KONSEP PENDIDIKAN K.H. IMAM ZARKASYI
A. Sekilas Tentang Riwayat Hidup K.H. Imam Zarkasyi
Imam Zarkasyi lhir di Gontor, Jawa Timur pada tanggal 21 maret 1910M. dan meninggal dunia pada tanggal 30 maret 1985. Ia meninggalkan seorang istri dan 11 orang anak.

B. Konsep Pendidikan K.H. Imam Zarkasyi
Secara garis besarkonsep pembaharuan pemikiran Imam Zarkasyi dapat dibagi dalam empat bidang yaitu pembaharuan dalam bidang metode dan sistem pendidikan, kurikulum pesantren, struktur dan sistem manajemen pesantren serta pola fikir santri dan kebebasan pesantren. Berikut uraianya ;
1. Pembaharuan Metode dan Sistem Pendidikan
Diantara pembaharuan metode dan sistem pendidikan yang diterapkan di Gontor adalah menganut sistem pendidikan klasikal yang terpimpin secara terorganisir dalam bentuk penjejangan kelas dalam jangka waktu yang ditetapkan. Hal ini ditempuh oleh Imam Zarkasi dalam rangka meningkatkan efisiensi dalam pengajaran, dengan harapan bahwa dengan biaya dan waktu yang relatif sedikit dapat menghasilkan produk yang besar dan bermutu.
Selain itu, Imam Zarkasyi juga memperkenalkan kegiatan extra kurikuler. Dalam hal ini santri memiliki kegiatan di luar jam pelajaran.

2. Pembaharuan Kurikulum
Kurikulum yang diterapkan oleh Imam Zarkasyi adalah 100% umum dan 100 % agama.

3. Pembaharuan Struktur dan Manajemen Pesantren
Demi kepentingan pendidikan dan pengajaran Islam, Imam Zarkasyi mewakafkan ponpes Gontor kepada lembaga yang di sebut badan wakaf pondok modern gontor.
Selanjutnya, dalam hal ini lembaga badan wakaf menjadi badan tertinggi di pondok Gontor. Badan inilah yang bertanggungjawab untuk mengangkat kyai untuk masa jabatan lima tahun. Dengan demikian, kyai bertindak menjadi mandataris dan bertanggungjawab kepada badan wakaf.

4. Pembaharuan dalam Pola Fikir Santri dan Kebebasan Pesantren.
Dalam hal ini di tanamkan jiwa kepada santri agar berdikari dan bebas. Sikap ini tidak saja berarti bahwa santri belajar dan melatih mengurus kepentinganya sendiri serta bebas menentukan jalan hidupnya di masyarakat., tetapi juga bahwa pondok pesantren itu sebdiri sebagai lembaga pendidikan harus tetap independen dan tidak tergantung pada pihak lain.

Saturday, 14 December 2013

Tips Dalam Mendidik Anak

"bersama membangun karakter bangsa"
         
Pahami anak sebagai individu yang berbeda. Seorang anak dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya berbeda satu dengan yang lainnya. Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami “sindroma” anak pertama. Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memerhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memerhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak.
فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghabun: 16)
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apabila aku melarangmu dari sesuatu maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara maka tunaikanlah semampumu.” (HR. Al-Bukhari, no. 7288)
Kata مَا اسْتَطَعْتُمْ (semampumu) menunjukkan kemampuan dan kesanggupan seseorang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, satu dengan lainnya tidak bisa disamakan. Ini semua karena pengaruh berbagai macam latar belakang.
Memberi tugas hendaklah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat kepada hati (niat) dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)
 Jangan mencaci maki anak karena kegagalannya. Tapi berikan ungkapan-ungkapan yang bisa memotivasi anak untuk bangkit dari kegagalannya. Misal, “Abi tidak marah kok, Ahmad belum hafal surat Yasin. Abi tahu, Ahmad sudah berusaha menghafal. Lain kali, kita coba lagi ya.”  Tidak membentak, memaki dan merendahkan anak. Apalagi di hadapan teman-temannya atau di hadapan umum.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا 
 “Dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (An-Nisa`: 5)
Tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
 “Barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, Allah akan menutup (aib) dirinya pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 2442)
 Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata. Tapi berilah solusi dengan memberitahu perbuatan yang benar yang seharusnya dia lakukan. Tentunya, dengan cara yang hikmah. ‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata:
 كُنْتُ غُلَامًا فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
 “Saat saya masih kecil dalam asuhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya menggerak-gerakkan tangan di dalam nampan (yang ada makanannya). Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatiku, ‘Wahai ananda, sebutlah nama Allah (yaitu bacalah Bismillah saat hendak makan). Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di sisi dekatmu’.” (HR. Al-Bukhari no. 5376)
 Tidak memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek. Seperti perkataan: “Dasar bodoh!” Ini berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ
 “Janganlah kalian menyeru (berdoa) atas diri kalian kecuali dengan sesuatu yang baik. Karena, sesungguhnya malaikat akan mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim no. 920)
Perbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak. Seperti ucapan:
 بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ
 “Semoga Allah memberkahi kalian.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83)
Juga selalu mendoakan kebaikan bagi sang anak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
 وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
 “Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Furqan: 74)
 Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak. Tidak mengedepankan emosi. Tidak mudah menjatuhkan sanksi. Telusuri setiap masalah yang ada pada anak dengan penuh hikmah, tabayyun (klarifikasi).
 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (Al-Baqarah: 269)
Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya.
 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90)
 Hindari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar. Sebaliknya, ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.
 Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا
"Permudah dan jangan kalian persulit. Gembirakan, dan jangan kalian membuat (mereka) lari.” (HR. Al-Bukhari no. 69) Wallahu a’lam.
 Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.
  Oleh : Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin
 Sumber : http://www.asysyariah.com

Tuesday, 3 December 2013

‘Oh, itu berbeda agamanya dengan kita, berarti dia boleh dibunuh’.”

Pendidikan adalah salah satu sarana untuk membangun karakterbangsa. 
Sejumlah lembaga pendidikan ditengarai telah mengajarkan intoleransi dan mengarahkan siswa untuk memiliki fanatisme terhadap ajaran agama tertentu.
Hal ini terjadi dari level yang paling dini sampai level perguruan tinggi.
Di Depok, ada anak TK dengan
spontan mengatakan, "Oh, itu
berbeda agamanya dengan kita, berarti dia boleh dibunuh".

Hasil survei Lembaga Kajian Islam
dan Perdamaian selama Oktober 2010 hingga Januari 2011 menunjukkan bahwa 49 persen
siswa di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi) cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan
masalah agama dan moral.
Upaya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pemerintah untuk menindak tegas
sekolah yang mengajarkan fanatisme dan radikalisme agama, merupakan langkah tepat.

Tokoh agama Romo Franz Magnis Suseno mengatakan pendidikan ke arah toleransi harus dimulai.

“Di situ ada dua poin yang penting. Yang
pertama bahwa toleransi bukan berarti
mengatakan semua keyakinan sama dan
sebagainya. Dan yang kedua, belajar menerima
bahwa orang dengan keyakinan yang berbeda.
Nah yang dua hal itu yang harus diajarkan
pada anak [sejak] kecil,” ujarnya.

Friday, 15 November 2013

Karakter Guru Masa Depan


Ketika karakter bangsa dipersoalkan maka sasaran utamanya adalah pendidikan. Bicara soal pendidikan tak terlepas dari sosok yang bernama guru . Guru merupakan ujung tombak dari sistem pendidikan, selain berhadapan langsung dengan peserta didik, guru juga akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Perilaku seorang guru tidak hanya di depan peserta didik juga akan tersorot di mata masyarakat. Karakter guru mutlak dibutuhkan untuk mewujudkan cita - cita sebagai bangsa yang berkarakter. Nah... untuk mewujudkan semua itu, selayaknya membekali diri agar tercipta pendidikan berkarakter, generasi berkarakter dan bangsa yang berkarakter. Buku kecil karya Drs. Nadjib Sulhan MA ini layak menjadi rujukan kita dalam membangun Karakter bangsa. Buku Pendidikan : Karakter Guru Masa DepanRp 44.000</ span>Beli di Lanjar.com</ span>